[FF] Stupid Love

Title                     :        Stupid Love

Main Cast            :        Kwon Jiyong & Kim Chaerin

Genre                  :        Angst

Length                :        Oneshoot

Ternyata apa yang kudengar selama ini memang benar

Sangat gila sesuatu yang bernama ‘cinta’ itu

Cinta bisa menyakiti seseorang

Cinta bisa membunuh seseorang

Cinta itu layaknya shotgun

Dan..cinta juga bisa membuat mata dan hatimu buta

Langkahku belum mau berhenti untuk menyusuri setiap sudut ruangan ini. Mengamati setiap sudut ruangan yang hampir kudatangi setiap hari. Tidak ada yang berubah dari tempat ini, bahkan keadaannya pun tetap sama seperti hari-hari sebelumnya. Ya, keadaan tempat ini memang selalu sepi setiap kali aku datang berkunjung kesini. Mataku berhenti bergerak ketika kulihat sebuah frame foto yang terletak diatas meja telepon. Kulangkahkan kakiku mendekati meja tersebut. Ingin melihat dengan lebih jelas sebuah foto yang terpasang dalam frame berwarna coklat itu. Jiyong. Namja yang kucintai. Aku tersenyum melihat dia juga tersenyum didalam foto itu. Seperti biasa, dia tetap terlihat tampan. Seketika, otakku memutar kembali ingatan kejadian dua bulan yang lalu. Saat.. Jiyong menyatakan cintanya padaku. Aku memang mencintai, sangat. Aku mulai mencintainya sejak satu setengah tahun yang lalu. Dia seniorku dikampus. Kami bertemu saat diadakannya acara MOS, dia memanggilku dan memarahiku habis-habisan lantaran aku datang terlambat dan lupa membawa berbagai perlengkapan yang memang telah diumumkan sebelumnya. Tapi entah mengapa, walaupun saat itu dia sedang memarahiku, aku malah merasa senang. Aku senang melihat dirinya. Ketika didekatnya, hatiku menjadi tidak karuan, detak jantungku berlari mondar-mandir, dan bibirku terasa kelu setiap kali manik matanya menatapku. Sebelumnya aku, adalah seorang gadis yang sama sekali tidak percaya dengan adanya cinta pada pandangan pertama. Namun, kali ini aku harus mengakuinya. Dia membuat diriku merasakan sensasi yang berbeda saat pertama kali aku melihatnya. Sebuah perasaan aneh yang tidak pernah aku rasakan ketika didekat namja lain. Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Aku yakin itu.

Aku sangat mengaguminya. Setiap hari dikampus, kegiatan yang aku lakukan selain masuk kuliah, adalah tentu saja mengamatinya. Mengamatinya dari kejauhan, mengambil gambarnya dengan ponselku secara diam-diam, mencoba mencari tau dirinya lebih dalam. Begitulah rutinitasku setiap harinya. Tidak sulit untuk mendapat banyak informasi tentang Jiyong, mengingat dirinya sebagai mahasiswa popular dikampus. Dia adalah seorang ketua organisasi mahasiswa dan seseorang yang digandrungi banyak gadis. Siapa yang tidak mengenalnya? Setiap mahasiswa dan mahasiswi mempunyai satu informasi tentang dirinya. Dan itulah yang kumanfaatkan, mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Jiyong dari mereka.

Sampai peristiwa dua bulan yang lalu, sebuah peristiwa yang tak pernah kusangka akan terjadi. Secara mengejutkan dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Walaupun sangat terkejut tapi aku juga merasa sangat bahagia. Karena aku juga sangat mencintainya. Jadi ketika dia menyatakan perasaannya padaku, tanpa berpikir panjang langsung aku terima. Tanpa peduli status Jiyong yang saat itu masih berpacaran dengan Jae Hee –teman seangkatannya yang juga seniorku- dan tanpa peduli juga dengan predikat playboy yang melekat pada dirinya. Aku tidak peduli. Yang aku mau hanyalah aku ingin selalu dekat dengannya. Hanya itu yang aku mau.

“ Hey..Hey…Kim Chaerin, bangunlah.”

Merasakan ada seseorang yang memanggil namaku sambil menepuk-nepuk kakiku, sontak aku pun terbangun. Aku mengerjapkan mataku perlahan. Nyawaku belum sepenuhnya terkumpul. Kudapati sosok seorang namja sedang duduk ditepi sofa tempat aku tidur sekarang. Jiyong.

“Ah, kau sudah pulang?”

Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah menatapku dengan tatapan kesal dan melipat kedua tangannya didada.

“Ini sudah malam, pulanglah.” Katanya sambil menunjuk kearah jam besar yang tergantung disalah satu sisi ruangan ini.

“Aku sudah membuatkanmu makanan, jadi kalau………”

“Aku sudah makan diluar.” Dia memotong perkataanku dengan cepat dan ketus.

Aku hanya bisa melongos. Aku sudah terbiasa mendengarkan perkataannya yang begitu ketus kepadaku itu. Ya, nada bicara nya hampir selalu sama ketika dia sedang bicara denganku. Ketus dan dingin. Mendengar nada bicara nya yang begitu, membuat hatiku sangat sakit. Rasanya seperti kulit tubuhku disayat oleh pisau yang tajam, berdarah, ditambah dengan tumpahan air jeruk nipis yang makin membuat lukanya terasa perih. Menyakitkan. Sudah dua bulan kami berpacaran, tapi sikapnya tidak berubah. Apa dia benar-benar membenciku ya?

“Baiklah, kalau begitu, aku akan pulang.”

Menyadari tak ada gunanya lagi jika aku terus berada di apartemennya ini, maka kuputuskan untuk pulang. Sebelum menuju pintu depan apartemen, aku membalikkan badanku lagi. Aku ingin melihat Jiyong kembali sebelum aku benar-benar pergi melangkah keluar dari apartemennya. Dia sedang duduk disofa diruang tengah. Terlihat dia sedang asik menonton acara TV. Kalian sudah lihatkan, dia bahkan tidak memperdulikan aku. Dia bahkan tidak mau mengantar aku pulang sampai ke rumah atau setidaknya, antarlah aku sampai didepan pintu apartemennya saja dan mengucapkan selamat tinggal serta hati-hati dijalan, itu sudah cukup untukku. Tapi sepertinya apa yang aku inginkan tidak mungkin terjadi.

><><><><><><><><><><><><><><><><><><

Rahangku mengeras, wajahku merah, mataku sedikit berkaca-kaca, hatiku panas, tubuhku menegang melihat pemandangan yang terpampang jelas didepanku. Pemandangan yang membuat hatiku sakit berkali-kali lipat.

Jiyong sedang berpelukan mesra dengan seorang gadis.

Aku tidak tau siapa gadis itu. Sebenarnya, aku tidak perlu heran lagi dengan hal itu, karna pemandangan menyakitkan itu sudah aku lihat puluhan kali setiap harinya. Seharusnya aku sudah terbiasa. Tapi tetap saja, hatiku selalu sakit bila melihat hal itu. Tentu saja sakit, melihat dia, Jiyong, orang yang sangat aku cintai bermesraan dengan gadis lain selain aku. Dan yang lebih membuatku sakit lagi, dia melakukannya tepat dihadapanku. Dia sadar aku melihat perbuatannya itu, tapi dia tetap melakukannya. Dia tetap melakukannya dan seakan menganggap aku ini tak ada.

–Cinta, sebuah kata yang tak persis pengertiannya, kecuali ketika kita merasakan sakitnya.—

Jangan tanya lagi sudah berapa kali aku merasakan sakitnya sebuah cinta. Dengan hanya seorang namja, cinta terasa begitu sangat menyakitkan. Dengan hanya seorang namja, cinta begitu menyesakkan. Aku jatuh terlalu dalam memasuki dunianya.

“Kenapa kau hanya diam? Mau sampai kapan kau begini, eoh? Dia itu namja kurang ajar yang hobinya mempermainkan wanita. Kenapa kau masih betah saja ada didekatnya? Seharusnya kau menghajarnya sampai mati karna sudah berani-beraninya menipumu.”

DEG

Perkataan Hanna barusan membuat perhatianku dari Jiyong teralihkan dan kini malah balik menatap sahabatku itu. Kalimat yang terlontar dari bibir Hanna itu seperti menjadi cambuk bagiku. Perkataan Hanna sangatlah benar 100%. Hanya saja………

Mungkin jika yeoja lain yang berada diposisiku sekarang ini, dia tanpa berpikir dua kali dan tanpa disuruh pun, akan langsung bertindak sesuai dengan yang semestinya ia lakukan. Melabrak dan menghajar sampai babak belur namjachingunya karna ketahuan selingkuh. Tapi aku tidak akan pernah mungkin melakukan hal itu. Karna……aku sangat mencintai Jiyong. Aku sadar betul, ini semua adalah risiko menjadi pacar seorang playboy seperti Jiyong. Hah, pacar? Entahlah. Aku tidak tau apakah dia masih menganggapku sebagai pacarnya atau tidak. Satu hal yang aku tau, aku akan bernasib sama seperti mantan pacarnya yang lain. Pada akhirnya dia tidak akan memperdulikan aku dan akan meninggalkanku begitu saja bahkan mungkin tanpa mengucapkan kata putus. Dia akan menghilang seperti gelembung…

Tapi hal itu tidak akan kubiarkan terjadi. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang tidak dianggap dan dicampakkan begitu saja olehnya. Kukatakan sekali lagi, aku sangat mencintai Jiyong. Aku ingin selalu ada didekatnya, meskipun hal itu berat dan menyakitkan bagiku. Aku tidak peduli. Asalkan selalu bisa berada didekatnya, aku tidak akan peduli bagaimana perlakuannya padaku. Karna, aku terlalu mencintainya dan aku tidak ingin pisah dengannya.

Orang bilang, dalam sebuah cinta selalu ada kata memaafkan. Itulah yang aku lakukan. Mencoba untuk melupakan dan memaafkan setiap perbuatan Jiyong yang membuat hatiku sakit. Mencoba bersikap sewajar mungkin seolah-olah aku tak pernah melihat dia berselingkuh dibelakangku. Mencoba bersikap seolah-olah kami menjalani sebuah hubungan cinta yang mesra dan bahagia.

Aku yakin, kelak suatu hari nanti Jiyong pasti akan menyadarinya. Menyadari arti dari keberadaanku. Menyadari bahwa aku mencintainya dengan tulus. Sampai saat itu tiba, aku akan bertahan.

Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lamapun selama aku mencintainya–Seno Gumira Ajidarma

“Sudahlah, ayo kita pergi.”

Aku menarik paksa lengan Hanna untuk menjauh dari tempat memuakkan itu.

“Lepaskan aku.” Hanna merontah.

“Mau sampai kapan kau begini,eoh? Kau itu sangat bodoh Kim Chaerin, kau tau itu?” dia membentakku.

Ya, sekali lagi kau benar 100% Park Hanna. Aku ini memang bodoh. Sangat bodoh. Aku bodoh telah terlalu dalam mencintai namja berengsek itu dan tidak bisa menjauhkan diriku darinya. Aku bodoh karna aku hanya diam saja saat melihat dia bermesraan dengan gadis lain. Aku bodoh karna aku tidak pernah sadar bahwa Jiyong hanya mempermainkan aku. Aku bodoh karna aku selalu memaafkan dia. Aku bodoh karna terlalu percaya pada diriku yang selalu yakin bahwa suatu saat dia akan mencintaiku. Aku bodoh karna aku selalu menunggunya. Sementara aku selalu menunggunya, dia sudah pergi bersama yang lain. Miris. Dan walaupun aku tau tentang hal itu, aku masih saja setia menunggunya. Bodoh kau, Kim Chaerin.

><><><><><><><><><><><><><><><><><><

Aku memasukkan sebuah kode rahasia, beberapa digit angka yang sudah kuhafal diluar kepala. Melepaskan sepatu, sebelum melangkah masuk kedalam lebih jauh. Kulihat sekelilingku. Sepi. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Kemana Jiyong ya? Kenapa dia belum pulang? Apa menghabiskan waktu dibar lagi?

“ Huh.”

Kuhembuskan nafas ku dengan kesal. Seperti biasa, aku membawakan makan malam untuknya. Tapi, sepertinya lagi-lagi makanan ini harus kubawa pulang kembali. Dia pasti sudah makan diluar dan pulang larut malam. Itu sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari. Seharusnya aku sudah tau akan hal itu dan tidak usah datang ke apartemennya. Tapi sepertinya hatiku tidak bisa diajak kompromi. Walaupun otakku melarang keras untuk tidak datang ke apartemen Jiyong tapi hatiku berbanding terbalik. Aku ingin bertemu dengannya. Ya, walaupun ketika dia melihatku dia pasti akan kesal dan malah memarahiku. Tak apa. Yang penting malam ini aku ingin bertemu dan melihat kondisinya. Semoga dia baik-baik saja.

Kulirik jam berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.

Pukul 21.15

Tanpa terasa ternyata sudah kurang lebih dua jam aku menunggu Jiyong. Tapi, sampai sekarang batang hidungnya tak terlihat sedikitpun. Hah, sepertinya dia benar-benar akan pulang sangat larut. Ya sudahlah, mungkin besok aku bisa datang lagi. Karna ini sudah malam, aku sebaiknya pulang. Karna jika aku menunggu sampai Jiyong pulang, aku akan lebih kemalaman lagi. Dan pastinya hal itu akan membuatku mendapat omelan gratis dari Eomma.

KRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGGGG

Aku baru saja selesai memakaikan sepatu dikaki kiriku ketika kudengar suara telepon berdering dari ruang tengah. Dengan tergesa kulepas kembali sepatu yang sudah kupakai dan berlari menuju ruang tengah. Dengan gerakan cepat kusambar  telepon itu. Aku harap Jiyonglah yang menelepon.

“Yeoboseyo..”

“Ah, ne. Anda benar. Ada apa ya?”

PRAAAANGGG

Detik berikutnya gagang telepon yang tadinya kepegang dan menempel didaun telingaku, kini jatuh meluncur kelantai dan menciptakan suara yang cukup nyaring. Aku terdiam kaku sesaat. Terkejut dan tak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Dengan gerakan kilat aku berlari sekencang yang aku bisa menuju pintu apartemen. Aku tak peduli dengan keadaan gagang telepon yang terjatuh atau dengan keadaan orang yang bicara denganku ditelepon tadi,yang pastinya dia bingung tak mendengar suaraku lagi. Kupakai sandal jepit yang ada dirak. Karna, kalau aku kembali memakai sepatuku lagi, aku yakin itu akan menguras waktu yang –menurutku- cukup lama, mengingat sepatuku itu adalah sepatu bertali. Aku memasuki lift dan segera menekan tombol lantai dasar. Aku yakin, wajahku pucat sekarang ini. Keringat dingin tak hentinya mengalir dari keningku. Nafasku memburu. Tangan dan kakiku bergetar. Hatiku kacau. Jantungku 1000 kali lipat berdetak lebih cepat dari biasanya. Pikiranku sudah melayang entah kemana. Aku cemas, sangat.

><><><><><><><><><><><><><><><><><><

BLAAAAMMMM

Kubuka pintu kamar rumah sakit itu dengan agak sedikit kasar. Hingga pintu itu berbenturan dengan dinding. Mataku menatap nanar kearah kasur tidur kamar rumah sakit itu. Disana, berbaring seseorang yang tubuhnya diselimuti dengan kain tipis sampai bagian bahu. Wajahnya masih dapat kulihat dengan jelas, dan itu adalah wajah yang sangat aku kenali. Tubuhnya terbujur kaku tak bergerak. Matanya tertutup rapat. Wajahnya putih memucat. Terdapat beberapa luka disekitar daerah wajahnya –kening, pipi dan hidungnya-. Jiyong-ku.

“Yak!! Kau pikir apa yang kau lakukan eoh? Ayo cepat bangun namja berandalan…”

Kuguncang tubuhnya dengan kuat agar dia segera bangun. Tidur, aku harap sekarang ini dia hanya sedang tertidur. Mataku memerah dan air mataku entah sejak kapan sudah jatuh dengan deras. Membasahi kedua pipiku dan membuat pandangan mataku sedikit kabur. Tidak seperti biasanya, dimana diriku dapat dengan mudah menahan emosi untuk tidak menangis, kali ini aku tak sanggup lagi menahan agar cairan asin itu tidak jatuh. Isak tangis dan teriakan histeris yang keluar dari bibirku sudah menjadi backsound yang berkumandang didalam kamar itu. Nafasku semakin tercekat ketika kulihat dia tak merespon. Keadaannya tetap sama seperti saat pertama kali aku datang, diam tak bergerak. Tubuhku merosot jatuh perlahan disamping tempat tidurnya, kini aku bertumpu pada lututku yang juga bergetar. Dengan perlahan, kuusap wajahnya yang mulai terasa dingin di punggung tanganku. Menyentuh setiap garis indah yang mengukir wajah tampannya. Tanganku berhenti ketika usapanku sampai pada bibirnya. Bibirnya yang putih, pucat dan membisu. Tak ada satu katapun yang keluar dari bibir itu. Hal itu makin membuat isak tangisku semakin keras. Kuremas sprei tempat tidurnya, melampiaskan segala emosi yang kurasakan. Sumpah demi apapun, aku lebih suka melihat dirinya saat dia berbicara dengan nada ketus dan kasar padaku dibandingkan dengan dirinya yang sekarang yang tidak bisa bergerak sedikitpun. Aku..benar-benar tak tega melihat keadaannya yang seperti ini. Aku ingin sekali menukar tempatnya denganku. Karna aku terlalu mencintainya. Aku tak sanggup melihat dia menderita.

“Dia…sudah meninggal.”

Kudengar suara seseorang dari arah belakangku. Suaranya begitu lirih dan bergetar. Isak tangisku berhenti sejenak dan perlahan kutolehkan kepalaku berbalik menghadap ke sumber suara itu.

“Seung..ri.”

Seungri. Sahabat karib Jiyong. Dia berdiri dibelakangku dengan tangan yang ia masukan disaku celananya. Menatapku dengan tatapan iba, sedih, kecewa, marah, kesal dan entahlah. Aku bisa melihat dengan jelas matanya. Bengkak dan lembab. Dia menangis.

“Kau ..bohong..Jiyong..itu..hanya..tertidur..sebentar..lagi pasti dia..akan bangun.”

Kujawab dia dengan suaraku yang juga bergetar. Tak percaya dengan apa yang ia katakan barusan. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menyangkal perkataan yang keluar dari mulutnya. Kugelengkan kepalaku kuat agar otakku tak terbius dengan perkataannya itu. Rasa takut yang amat besar menggerogoti sekujur tubuhku. Aku takut. Sangat takut.

“Ini..tidak..mungkin..kau..pasti..”

Belum sempat kuselesaikan ucapanku. Tiba-tiba aku merasakan dadaku sesak. Kepalaku terasa pusing dan berat. Mataku serasa mengantuk dan sulit untuk dibuka. Lalu semuanya menjadi kabur dan gelap. Aku ambruk.

Dia sudah meninggal?

Antara nyata dan mimpi. Antara benar dan salah. Antara percaya dan tak percaya. Jiyongku..sudah meninggal. Belum sempat kuberitahu betapa besarnya cintaku padanya dan belum banyak hal yang bisa kulakukan untuknya, dia sudah pergi.

Apapun yang aku lakukan, sekuat apapun aku menangis dan sekencang apapun aku berteriak, keadaannya tidak akan berubah. Jiyongku…dia benar-benar sudah pergi. Orang yang kucintai itu..meninggal. Orang yang selalu menyakiti perasaanku itu..Dia meninggal.

Seketika duniaku serasa runtuh. Tak ada lagi warna-warni yang mencerahkan duniaku. Gelap dan kelam. Tanpa Jiyong disisiku, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana mungkin aku tau apa yang akan aku lakukan kalau bernafas saja rasanya sangat sulit. Seperti berada diluar angkasa, tiada oksigen yang dapat kuhirup. Seakan kakiku tak menapak lagi pada tanah.Tubuhku lunglai, seakan tulang yang menyanggahnya terlepas dari dagingku. Hatiku hancur seakan telah dipotong berkeping-keping, menjadi bagian yang paling kecil. Tak ada jenis perasaan yang bisa ku rasakan lagi. Hidup menjadi tiada berarti lagi bagiku.

Ini sangat sulit dipercaya. Aku bertemu dengannya dikampus tadi siang. Dan sekarang dia sudah menghilang..seperti gelembung.

Terlalu menyakitkan jika ini sebuah kenyataan. Dan terlalu menakutkan jika ini sebuah mimpi.

Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa Tuhan tak mendengarkan doaku? Apa ini karma yang Jiyong terima lantaran dirinya yang suka mempermainkan wanita? Tapi bagiku ini sungguh keterlaluan dan kejam. Tuhan, tidak bisakah Kau menghukumnya dengan cara yang lain tanpa perlu mengambil nyawanya seperti ini?

Hatiku luka. Cinta ini merobek dan melukai hatiku..

Cinta ini telah menciptakan luka yang amat besar dihatiku. Sangat besar hingga aku merasakan sesak dan sakit yang amat sulit untuk kujelaskan. Sekarang aku sadar, selama ini Jiyong memang selalu menyakiti hatiku. Tapi..luka yang sebenarnya adalah melihatnya meninggal.

–Seiring berjalan waktu, kau akan melupakannya dan memulai hidup baru

Itu tidak mungkin. Aku tidak akan melupakannya. Dan aku juga tidak akan pernah mau belajar untuk melupakannya. Bagiku, Jiyong adalah sebuah keajaiban dalam hidupku. Sulit untuk bangkit kembali dan memulai hidup baru jika ‘keajaiban’ itu telah lenyap. Dia adalah cahaya matahari dalam hidupku. Tanpanya aku tersesat. Ia segalanya yang aku inginkan, sekaligus segalanya yang tak bisa aku miliki.

Jiyong adalah duniaku. Jiyong adalah hidupku. Dihatiku hanya terukir namanya.

Aku mencintaimu, Jiyong-ah.

Selamanya.

#T.H.E_E.N.D#

“DON’T BE A PLAGIATOR”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s