[FF] Audisi

Title :

Audisi

Author :

“D”

Main Cast :

Park Chanyeol

Han Sohee

Support Cast :

EXO K

Genre :

Teen, Comedy (mungkin), Romance (mungkin)

Length :

One Shoot 

Anda merasa seorang wanita ?

Berumur 17-20 tahun

Mempunyai tinggi badan 167-175

Pandai memasak, feminim, dan suka senyum

Merasa memenuhi kriteria diatas?

Segeralah daftarkan diri anda pada audisi “Park Chanyeol Mencari Pacar”

Mungkin andalah sang wanita yang sedang dicari oleh Park Chanyeol ^^.

“Peserta nomor 3.567.897. Silahkan ke loket 1.” Panggil Kai dari balik toa yang ada digenggamannya.

Seorang gadis yang merasa dialah orang yang dipanggil tersebut segera bangkit dari duduknya. Berjalan menuju loket 1 yang dimaksud Kai.

“Nama?” tanya Baekhyun setelah mempersilahkan gadis itu duduk.

“Kim..Hye Na.” jawab gadis itu sedikit ragu.

“Usia?”

“19 tahun.”

“Pekerjaan?”

“Mahasiswi di Kyunghee University dan juga seorang model”

“Apa alasanmu mengikuti audisi ini?” Baekhyun menatap serius gadis itu sambil menopang dagunya.

“Tentu saja karna aku menyukai Park Chanyeol dan aku ingin menjadi pacarnya.”

“Lalu beri aku satu alasan, mengapa Park Chanyeol harus memilihmu sebagai pacarnya?”

“Huahahahahahaha…..” bukannya menjawab gadis itu malah tertawa. Membuat Baekhyun mengangkat alisnya heran.

Gadis yang aneh dan menyeramkan. Pikir Baekhyun.

“Kenapa Chanyeol harus memilihku? Aku cantik, seksi, tinggi, kulit putih susu, seorang model tetap sebuah majalah, mahasiswi paling populer di kampusku. Sekali lirik saja, Park Chanyeol pasti akan langsung terpikat.”

Benar-benar gadis yang narsis. Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan.

Dilihat dari penampilannya, dia memang seorang gadis yang feminim, cantik dan senyumnya sangat manis. Pikir Baekhyun –lagi- sambil mengusap dagunya.

“Kau pandai memasak?”

“Memasak? Untuk apa kau capek-capek memasak kalau kau bisa meminta pelayanmu yang melakukannya. Aku menggaji pelayan kan untuk memasak. Lalu untuk apa aku memasak lagi? Benar-benar menguras tenaga saja. Kau tau? Keluargaku itu sangat kaya. Dirumah, kami mempunyai 50 chef handal dari seluruh dunia, kau ingin makan apa tinggal bilang saja, tidak perlu repot-repot memasak sendiri.”

Baekhyun mulai menerawang lagi. Cantik diwajah, tidak dihati. Sombong, narsis, dan manja. Tidak pandai memasak,  yang ada suka memerintah. Aku yakin Chanyeol juga tidak akan suka dengan gadis ini.

“Ehm..baiklah. Silahkan tulis no handphonemu disini. Tunggu konfirmasi dari pihak kami ya.” Baekhyun tetap bersikap ramah dan sopan. Meskipun dia ingin sekali memukul kepala gadis itu dengan toa yang sedang Kai pegang.

Mencari wanita ideal zaman sekarang benar-benar sulit. Kata Baekhyun dalam hati.

Di loket 2

“Nama?” tanya Sehun tanpa melirik ke arah orang yang sedang ia tanyai.

“Goo Yoo Jin.”

“Usia?” Sehun masih asyik menulis.

“45 tahun.”

BLANK! Kali ini Sehun menghentikan aktivitasnya menulis dan memandang lawan bicaranya.

“HUUUUAAAHHH……bibi, apa yang anda lakukan disini? Apa anda tidak membaca kalau maksimal usia itu 20 tahun?”

Betapa terkejutnya Sehun ketika dia menengadahkan kepalanya, ternyata orang yang ada di hadapannya itu adalah seorang ahjumma.

“Hey anak muda, tentu saja aku membaca persyaratannya, aku kan tidak buta.”

“Terus kenapa Bibi masih mendaftar kalau begitu?” Sehun mencoba menahan emosinya.

“Meskipun usiaku sudah menginjak 45 tahun, tapi tampangku ini masih keliatan muda dan imut-imut. Aku yakin sih Park Chanyeol itu akan memilihku. Usia bukanlah sebuah halangan.”

“Masih imut-imut apanya? Sudah keriput begitu.” Gumam Sehun pelan. Namun sayang, sepertinya ahjumma itu telinganya sangat tajam dan ia mendengar gumaman Sehun.

PLLLAAAAAKKK

“Aww sakit.” Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kanan Sehun membuat Sehun meringis kesakitan.

“KAU BILANG APA TADI ANAK MUDA? KERIPUT KATAMU? KURANG AJAR. KAU INI BENAR-BENAR TIDAK SOPAN RUPANYA.”

Kemarahan ahjumma itu meledak. Ia menggebrak meja kasar dan menatap horror ke arah Sehun.

“Ta..tapi..tapikan itu memang..kenyataannya.” jawab Sehun terbata-bata. *dasar Sehun, terlalu jujur sekali sih? Betul-betul tidak bisa membaca situasi TT___TT*

“APA KAU BILANG????” ahjumma itu melepaskan high heels yang dipakainya dan hendak menipuk Sehun.

“HUUUAAAAHHH…..” pekik Sehun ketakutan. Sehun segera menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Beruntung, ahjumma itu sangat tau tempat dan kondisi. Dia tidak ingin menimbulkan kekacauan ditengah-tengah keramaian seperti ini. Jadi ahjumma itu memakai kembali high heels nya.

“Huh, membuat darahku naik saja.” Katanya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Sehun.

“Aku selamat.” Sehun mengelus dadanya lega.

“Next!” Sehun memberi isyarat pada Kai untuk memanggil peserta selanjutnya.

“Peserta nomor 3.567.899, silahkan ke loket 2.” Teriak Kai.

“Annyeong.”

Sehun menoleh.

“HHHHUUUUUUAAAAAHHHH!!!!”

“Adik kecil, sedang apa kau disini?” lagi-lagi Sehun dikejutkan dengan kedatangan peserta tak terduga. Kali ini bukan seorang ahjumma, melainkan seorang anak kecil yang manis.

“Kakak, aku juga ingin ikut audisi.” Kata gadis cilik itu sambil mendekati Sehun dan menarik-narik ujung kaos Sehun.

“Aku juga mau jadi pacar Kak Chanyeol.” Lanjut gadis kecil itu.

“Hehehehehe..” Sehun terkekeh kaku. Kepalanya benar-benar sudah mau meledak.

“Siapa namamu, eoh? Dan berapa usiamu?” Sehun mengangkat tubuh gadis itu dan memangkuknya di pahanya.

“Namaku Jung Sulli dan usiaku 7 tahun.” Jawab gadis kecil itu sambil mengemut (?) permen yang ada dipegangannya.

Pertumbuhan anak-anak zaman sekarang benar-benar cepat. Usianya masih 7 tahun, tapi sudah memikirkan yang namanya pacaran. Pikir Sehun.

“Dengarkan Kakak ya adik kecil, kamu itu masih terlalu kecil dan masih terlalu muda untuk mengikuti audisi ini. Kak Chanyeol itu mencari seorang gadis yang ehm..” Sehun berhenti sejenak dan berpikir sebentar.

“Gadis yang sudah matang dan sudah berpengalaman.” Katanya sambil mencubit pipi gadis kecil itu. Gadis kecil itu mempoutkan bibirnya mendengar jawaban Sehun.

“Ka..lo..be..gi..tu..saya..boolleehh..ikut do..ng ya..cuk?” Saya kan..su..da..h..ma.t..ang dan su..dah..ber..pe..nga..la..man.”

Sehun menoleh mencari sumber suara.

“HHUUUUUUUAAAAAAAHHH.” *Sehun hobby teriak dan hobby kaget^^*

Seorang nenek yang sudah tua dan bungkuk berdiri dihadapan Sehun. Sebuah tongkat menopang tubuhnya yang sudah rentan.

Oh Tuhan, ambillah nyawaku sekarang. Doa Sehun dalam hati.

Di loket 3

Dio sedang asyik mengamati foto-foto dirinya dari balik layar ipad nya. Sebenarnya interview dengan peserta sebelumnya telah selesai, tapi Dio malas untuk memanggil peserta selanjutnya. Dia lebih memilih mengutak ngatik ipad nya dan memperhatikan ribuan foto dirinya yang tersimpan rapi dalam file ipad tersebut.

“Aku ini memang sangat tampan. Siwon saja kalah.” Gumam Dio.

“Senyumanku manis dan bikin gemes. Tidak seperti senyuman Siwon yang mirip kuda. Kekekekk….”

Dio senyum senyum sendiri sambil tetap fokus menatap layar ipad nya.

“Ehem..Ehem..” Sebuah suara bass mengagetkan Dio. Membuat Dio terlonjak dari kursinya dan hampir jatuh.

“Kai-ya. Kau mengagetkan aku saja.”

PUUUKKKK

Kai memukul kepala Dio dengan toa yang dipegangnya. *benar-benar dongsaeng yang kurang ajar TT_____TT*

“YAAAAKKK!!”

Dio bangkit dari duduknya.

“Hyung, kau tidak lihat antriannya sudah semakin panjang, tapi kau malah asyik memainkan ipad-mu. Kau lupa dengan tugasmu?”

Dio ciut. Walaupun Kai itu dongsaeng nya , tapi tubuh Kai lebih tinggi dan lebih kekar dibandingkan dirinya. Dan juga ia orang yang cerewet dan menyeramkan. Akan sangat menakutkan kalau dia sedang marah. Seakan pintu neraka terbuka dan keluarlah semua iblis didalamnya. Pikir Dio.

“Ehm..mian.” Dio menunduk dan kembali duduk.

“Aku panggil peserta berikutnya.” Kata Kai kemudian berlalu –kembali ke alamnya semula (?)-

“Peserta nomor 3.567.902. Silahkan ke loket 3.” Teriak Kai memanggil peserta selanjutnya dan mengarahkan agar menuju loket 3.

Dio mematikan Ipad nya dan kemudian memasukkan ke dalam backpack hitam kesayangannya.

“Selamat siang, Nona. Siapa na…..KKKKKKYYYYYYAAAAAAA.”

Shock berat. Dio sudah selesai memasukkan Ipad nya kedalam backpack. Dan hendak menyapa peserta audisi yang sudah duduk dikursi dihadapannya. Tapi penampilan peserta itu benar-benar di luar perkiraannya.

“YANG AKU PANGGIL ITU ‘NONA’, KENAPA YANG MUNCUL BAPAK-BAPAK?”

Dio menangis dan menghempaskan kepalanya ke atas meja.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

“Bagaimana audisi hari ini?” tanya Suho sambil membuka pintu kulkas.

“Ancur!” balas Sehun dan Dio serempak.

“Ada apa dengan kalian berdua?” Suho menarik kursi dan duduk diantara kedua dongsaeng nya itu.

“Suho Hyung, kenapa sih Chanyeol Hyung harus mengadakan audisi seperti ini? Audisi ini tidak ada gunanya. Kenapa tidak dia cari sendiri saja pacar yang diidam-idamkannya itu tanpa harus melibatkan kami?” protes sang magnae.

“Audisi ini benar-benar membuat kepalaku mau pecah.” Lanjutnya.

“Audisi ini benar-benar membuat tekanan darahku naik drastis.” Timpal Dio.

“Audisi ini benar-benar membantuku. Aku dapat banyak nomor telepon wanita cantik hari ini.” Kata Baekhyun sambil senyam senyum sendiri. Dan langsung membuat dirinya mendapat death glare mematikan dari Suho, Sehun dan Dio.

“Oh..ya. Mana Kai? Aku tidak melihatnya dari tadi?” tanya Suho.

“Sudah tidur.” Sahut Sehun santai.

“Mwo? Sudah tidur? Tapi kan ini masih jam setengah tujuh. Kenapa dia sudah tidur?”

“Hyung ini, seperti tidak tau Kai saja! Dia itu kan si Blacky tukang tidur.” Jawab Baekhyun seraya menggigit apel merah yang ada ditangannya.

“Ssssyyyyyuuuuuttttt !!!” Suho, Dio dan Sehun sontak menempelkan jari telunjuk mereka pada bibir mereka masing-masing. Tanda menyuruh diam.

“Jangan keras-keras, Hyung. Kalau Kai terbangun dan dia mendengarnya, bagaimana? Dia kan tidak suka kalau dipanggil Blacky, terdengar seperti memanggil anjing saja katanya. Kau mau membuatnya marah dan men-smack down dirimu?” tanya Dio.

Baekhyun menggeleng cepat dan keras. Rasa takut terlihat jelas pada wajahnya. Dia lupa kalau tidak boleh menyebutkan kata “Blacky” di dalam dorm. Atau kau akan membangunkan seorang iblis. Mengingat terakhir kali dirinya memanggil Kai dengan sebutan Blacky adalah sekitar sebulan yang lalu. Hal itu membuat Kai teramat sangat marah, sehingga melakukan smack down sekali tangkap (?) pada Baekhyun. Alhasil, Baekhyun pun harus dirawat di rumah sakit dengan 25 jahitan. Seram.

“Baiklah semuanya, aku masuk kamar dulu ya. Kalian tidurnya jangan malam-malam. Besok harus jaga audisi lagi.” Suho beranjak dari kursinya.

“MWO? BESOK HARUS JAGA AUDISI LAGI?” teriak Sehun, Dio dan Baekhyun kaget.

“Tentu saja.” Suho tersenyum jahil seraya pergi meninggalkan dongsaeng-dongsaengnya yang masih melongo kaget.

“Haiiisssshhh…. Suho Hyung keterlaluan. Masa kita lagi yang harus jaga audisi itu, sementara dia enak-enakkan bersantai di dorm. Dengan alasan ‘yang muda harus mengalah pada yang lebih tua’. Alasan apa itu? Benar-benar menyebalkan. Leader kejam!” amuk Sehun.

“Chanyeol juga begitu. Kemana sih dia? Kenapa seenaknya juga melimpahkan tugas menjaga audisi pada kita? Yang mencari pacar kan dia, seharusnya dia dong yang menjaga audisi itu.” kali ini Dio yang ngomel.

“Huh..benar-benar merepotkan. Kita ini kan boyband, bukan panitia audisi. Kenapa malah melakukan hal semacam ini?” sambung Baekhyun.

“Aku harap Chanyeol Hyung segera mendapatkan pacar sehingga beban kita dapat hilang.” Sehun memandang ke arah langit dari balik jendela dapur dorm Exo.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Chanyeol berjalan sambil menenteng dua kantong belanjaan masing-masing dikedua tangannya. Dia baru saja selesai melakukan sesi pemotretan untuk sebuah majalah. Sebelum pulang ke dorm, Chanyeol ingin pulang ke rumahnya dulu. Akhir-akhir ini jadwalnya sangat padat, membuatnya jarang pulang ke rumah. Karna itulah, setelah meminta izin pada sang manajer, Chanyeol berniat melepas rindu dengan kedua orang tuanya hari ini.

Sebelumnya Chanyeol sudah mampir ke supermarket. Membeli banyak makanan untuk kedua orang tuanya dan untuk teman-teman se-dormnya. Dia tahu, teman-temannya itu pasti sangat lelah seharian ini, lantaran membantunya menjaga audisi. Karna itulah, dia membelikan teman-temannya tersebut banyak makanan –sebagai rasa terima kasih-.

“Park Chanyeol..Chanyeol-ah.”

Chanyeol menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya kebelakang. Terlihat seorang gadis sedang berlari mendekat ke arahnya. Memakai kaos oblong + hoodie berwarna hitam, skinny jeans, topi, sneaker converse biru tua, sebuah backpack melekat pada punggungnya, dan tak lupa sebuah papan skate ia pegang ditangan kirinya.

“Ada apa Sohee-ya? Kenapa kau berlari seperti itu?”

Han Sohee. Tetangga sekaligus teman dekat Chanyeol dari kecil.

“Huh…Huh..Hah..Huh..” gadis itu masih mencoba menormalkan kembali nafasnya.

“Aku berteriak memanggilmu dari tadi. Apa kau tuli, eoh?” Sohee menatap kesal pada Chanyeol.

“Benarkah?” Chanyeol menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

“Kau mau pulang ke rumah orang tuamu?”

“Ya.”

“Kalau begitu ayo kita sama-sama.” Ajak Sohee.

Chanyeol mengangguk, tanda setuju.

Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Tidak satupun dari mereka mencoba untuk memulai perbincangan. Diam dan kaku. Sampai akhirnya Sohee duluan lah yang memecah keheningan diantara mereka.

“Chanyeol-ah, kudengar kau sedang mencari pacar ya? Sampai melakukan audisi segala.” Sohee mulai bicara.

“Eh? Kau tau darimana?”

“Mana mungkin aku tidak tahu. Semua orang tahu. Kau kan memasang iklan pengumumannya di internet, surat kabar, majalah, televisi, radio. Jadi mana mungkin aku tidak tahu” Jawab Sohee.

“Oh..ya.”

Setelah itu suasana kembali kaku. Mereka kembali berjalan dalam diam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya, membuat suasana menjadi canggung.

“Chanyeol-ah..” Sohee menarik tangan Chanyeol, membuat Chanyeol menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Sohee.

“Ehm, apa?”

“Ayo kita lomba lari. Kalau aku kalah, aku akan mengabulkan 2 permintaanmu. Tapi kalau aku menang.. bisakah kau mempertimbangkan aku untuk menjadi pacarmu?”

Chanyeol mengangkat alisnya heran seraya tetap menatap Sohee. Gadis itu juga menatap serius kedalam manik mata Chanyeol. Wajahnya jelas menampakkan ia sedang menanti jawaban Chanyeol.

Tidak feminim, tomboy. Rambutnya tidak panjang. Badannya tidak tinggi dan tidak langsing. Dalam hal memasak pun skill nya masih nol. Chanyeol melakukan penilaian terhadap gadis itu.

Tapi…Sohee adalah teman dekatku. Dia yang selalu ada dalam suka dan duka ku. Dia yang selalu menolongku. Dia adalah satu-satunya orang yang dapat memahamiku. Mengerti sikap dan tahu banyak hal tentang aku. Dia juga yang selalu membuatku tersenyum.

“Baiklah. Aku terima tantanganmu. Jangan pikir kau bisa menang dariku.” Chanyeol tersenyum tulus pada Sohee. Membuat Sohee pun ikut tersenyum mendengar jawaban Chanyeol.

Dia memberiku kesempatan, dan tak akan ku sia-sia kan. Sohee berkata dalam hatinya.

“Jangan sombong dulu Chanyeol-ah. Aku tahu kakimu panjang. Tapi itu tidak berarti larimu kencang, kan. Lagipula…kau sedang membawa banyak belanjaan. Itu pasti akan menyulitkanmu.” Ejek Sohee.

“Ah, jadi kau meremehkan kaki hebatku ini. Langsung saja ayo kita mulai lomba larinya.”

Sohee mengangguk.

“Bersiaplah Han Sohee!”

Chanyeol dan Sohee mulai bersiap pada posisinya masing-masing.

“Aku hitung sampai tiga ya.” Kata Chanyeol. Sohee tersenyum jahil.

“ Satu..dua..YAAKKK! Han Sohee, kau curang. Kau berlari duluan. Aku kan belum selesai menghitung.”

Chanyeol pun segera bangkit dan berlari mengejar Sohee yang sudah jauh meninggalkannya.

@END@@END@@END@@END@@END@@END@@END@@END@@END@@END@

7 thoughts on “[FF] Audisi

  1. Ha udh end?#garukgarukkepalakai#
    pdhl lgi seru2(y) loh thor-_-! Ayo dong dilnjutin! Comedy koplak bnget lgi.
    Author fighting Q tnggu lnjtannya ya…
    Chu~~~#ciumchanyeol#

  2. Ha udh end?#garukgarukkepalakai#
    pdhl lgi seru2(y) loh thor-_-! Ayo dong dilnjutin! Comedy koplak bnget. Ap lgi bgiannya dede thehun~_~
    Author fighting Q tnggu lnjtannya ya…
    Chu~~~#ciumchanyeol#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s