[FF] Chanyeol’s Diary

Title :

Chanyeol’s Diary

Author :

“D”

Main Cast :

Park Chanyeol

Genre :

Family

Kamis, 27 November 2008

Saat aku merayakan pesta ulang tahunku.

Tepat saat usiaku menginjak 17 tahun.

Malam itu, setelah pesta usai. Ibu datang masuk ke kamarku. Bukan untuk mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Bukan juga untuk memberiku hadiah. Melainkan untuk memberitahukanku sebuah kenyataan. Kenyataan pahit yang tak ingin kuketahui, namun harus tetap kudengarkan.

Aku…bukan anak kandung Ibu dan Ayah.

Shock, sedih, kecewa, marah. Setelah sekian lama, baru sekarang dia memberitahukannya padaku. Tepat dihari dimana aku seharusnya tersenyum merayakan sweet seventeenth ku.

Keesokan harinya

Semuanya terasa berbeda. Dalam satu malam semuanya berubah. Mendadak aku tidak tahu bagaimana harus bersikap pada orang tua –angkat-ku ini, kulihat mereka pun begitu. Canggung.

Aku kembali mengingat kejadian tadi malam. Hatiku hancur mendengar Ibu mengucapkan kenyataan pahit itu. Aku? Bukan anak kandungnya. Aku bukan siapa-siapa dirumah ini. Aku tidak memiliki ikatan darah dengan Tuan maupun Nyonya pemilik rumah ini. Aku hanya ‘numpang’ dirumah ini. Sedih dan menyakitkan.

Sabtu, 27 Desember 2008

Keadaan semakin memburuk. Aku jadi anak yang tertutup dan pembangkang. Aku sering berkelahi adu mulut dengan kedua orang tua angkatku. Aku juga tidak mau mendengarkan apa yang mereka katakan. Terlebih lagi aku selalu pulang larut malam dan sering bolos sekolah.

Aku masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku hanyalah anak angkat. Lalu dimana orang tua kandungku? Mereka membuangku? Kenapa? Kenapa membuangku? Mereka anggap apa aku ini? Apa aku ini sampah busuk yang harus dibuang?

Aku pernah melakukan percobaan untuk bunuh diri. Namun selalu gagal. Tuhan sepertinya belum merestui bila aku mati.

Aku yang sedih, kecewa dan putus asa mulai mengenal yang namanya clubbing dan dunia malam. Seorang teman sekolah yang memperkenalkannya padaku. Awalnya aku menolak, tapi akhirnya aku terbujuk juga dan datang ke tempat itu untuk menghibur diri. Pengab, gelap dan bau alcohol tajam yang menusuk hidung. Tempat itu terasa aneh bagiku yang baru pertama kali berkunjung. Temanku menyuruhku untuk duduk di meja bar dan memesankan satu gelas minuman untukku. Aku tidak tahu jenis minuman apa itu. Yang pasti rasanya pahit dan berat ditenggorokanku. Tapi yang lebih aneh lagi, minuman itu justru membuatku ketagihan. Gelas pertama, aku masih haus. Gelas kedua, kepalaku pusing tapi aku ingin minuman ‘segar’ itu lagi. Gelas ketiga, oke minuman itu membuatku melayang dan semua beban yang terasa sesak didadaku, semuanya menghilang. Lepas dan bebas. Gelas keempat, aku tidak ingat lagi, semuanya sudah berubah gelap.

Pagi itu aku terbangun karna sebuah mimpi buruk. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk mengembalikan tingkat kesadaranku. Aku melihat sekelilingku. Ini….bukan kamarku. Dimana aku?

Baru aku sadari ternyata aku tidak memakai baju sama sekali. Oh, GOD! Yang melekat dibadanku hanyalah sebuah underwear abu-abu Calvin Klein. Dan yang lebih membuatku terkejut lagi adalah..ketika aku menoleh kesamping, aku tidak sendirian. Disampingku terbaring seorang wanita yang masih tertidur pulas dan dia…tanpa busana? What the hell?!?!?!?!?!?!?!

Aku segera bangkit dari kasur dan menyambar baju serta celana panjangku yang berserakan di lantai. Membuka pintu dengan kasar dan keluar. Perasaanku campur aduk, aku bingung dengan apa yang terjadi. Seingatku, tadi malam aku pergi ke Club dengan temanku dan minum beberapa gelas. Lalu kenapa aku berakhir di kamar itu dengan tanpa busana? Dan dengan wanita tadi? Siapa dia?

Jum’at, 23 Januari 2009

Aku sudah terlampau sering bolos sekolah. Tidak mengerjakan tugas dan sering melawan guru-guruku. Biasanya ketika bolos, aku pergi bersama teman-teman bandelku. Minum dan ngobat. Dua hal yang sudah biasa bagiku. Dan kedua orang tua angkatku tidak tahu tentang hal itu. Yang mereka yakini adalah setiap hari aku pergi ke sekolah seperti biasa dan pulang larut malam dengan alasan belajar kelompok. Dan mereka percaya dengan alasan yang kubuat.

Sialnya, hari ini Kepala Sekolah memanggil Ibu untuk datang menghadap. Aku yakin, aku akan di skors. Ah biarkan saja, aku tidak peduli. Akan lebih menyenangkan jika aku tidak masuk sekolah. Aku jadi punya banyak waktu luang untuk pergi ke Club. Aku jadi punya banyak waktu luang untuk bersenang-senang. Aku jadi punya banyak waktu luang untuk minum dan ngobat lagi. Haha, membayangkannya saja sudah membuatku serasa di surga.

Ibu datang. Beliau sudah masuk ke ruangan Kepala Sekolah. Sementara aku menunggu diluar. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan dan aku juga tidak berniat untuk menguping. Selama 15 menit aku menunggu diluar. Sampai kusadari seseorang membuka pintu ruang Kepala Sekolah dari dalam. Itu Ibu.

Beliau berjalan mendekatiku dengan wajah datar dan mata yang memerah. Dia pasti marah. Aku yakin beliau akan menamparku detik ini juga. Tapi ternyata dugaanku salah, Ibu malah memelukku. Aku tidak mengerti. Kurasakan pundaknya bergetar dan terdengar suara isak tangisnya. Air matanya jatuh membasahi seragam sekolahku.

“Maaf…Maafkan Ibu. Ini semua salah Ibu. Maaf.” Beliau berkata disela isak tangisnya.

Entah mengapa, mendengar kata ‘maaf’ itu keluar dari mulutnya membuat hatiku sesak dan sakit.  Tidak, bukan karna kau membencinya. Aku marah, marah pada diriku sendiri. Ibu menangis. Dan itu karna aku. Astaga, apa yang selama ini sudah aku lakukan? Aku sudah membuatnya menangis. Aku membuat seseorang yang sudah merawat dan membesarkanku itu…menangis. Tiba-tiba sebuah penyesalan yang besar muncul di hatiku. Membuatku ikut menangis bersamanya.

“Ngh..Ngh….I..bu.” ujarku pelan.

Aku makin menguatkan pelukanku ditubuhnya. Melampiaskan betapa menyesalnya diriku.

Kamis, 2 Agustus 2012

“Chanyeol-ah, turunlah. Makanannya sudah Ibu siapkan.”

“Ya, Bu. Tunggu sebentar.” Jawabku dari dalam kamar.

Kalian masih ingat denganku? Hehehe ya, aku! Sih Park Chanyeol anak pungut itu. Hidupku sekarang sudah jauh..jauh..jauuuh lebih baik dari sebelumnya. Aku hidup normal dan bahagia bersama kedua orang tua angkat yang sangat menyayangiku. Sejak peristiwa –saat Ibu memelukku dan menangis karna aku-, aku bertekat mengubah pandangan hidupku. Aku tidak mau lagi pergi ke Club, bersenang-senang, minum sampai mabuk dan aku juga berhenti ngobat. Ibu memasukkanku ke Panti Rehab untuk menghilangkan kecanduanku pada obat-obatan itu. Aku tidak mau lagi terpuruk dalam kesedihan tak berarti itu. Aku menyesal dan aku tidak ingin melukai perasaan Ibu lagi hingga beliau menangis.

Aku..memang anak angkat. Dan bodohnya, aku selalu marah akan hal itu. Pikiranku sempit. Seharusnya aku lebih bisa memandang luas. Diluar sana, ada ribuan anak yang dibuang oleh orang tuanya. Mereka dibiarkan terlantar atau ditinggalkan di Panti Asuhan. Tanpa orang tua dan tanpa kasih sayang. Tuhan masih sayang pada Park Chanyeol ini. Dia menitipkanku pada dua orang manusia yang memiliki hati malaikat. Orang tua angkatku. Mereka menyayangi, mencintai dan memperlakukanku layaknya anak kandung. Mereka memberikan apa yang aku butuhkan. Sebuah kehangatan dan kasih sayang keluarga. Sesuatu yang patut aku syukuri.

“Chanyeol-ah, bagaimana dengan persiapan pentas bandmu minggu depan?” Ayah memulai pembicaraan.

“Ehm..nyam..nyam..semuanya berjalan lancar, Yah. Apa..kalian akan datang?” tanyaku sambil tetap mengunyah makanan.

“Tentu saja kami akan datang, Sayang.” Ibu mengusap rambutku pelan. Aku tersenyum.

Ibu pernah bercerita, saat pertama kali menemukanku. Saat itu, Ibu baru saja pulang dari kantornya. Beliau melihat seorang wanita meletakkan sebuah kardus besar di depan pintu rumah. Sontak saja, Ibu segera turun dari mobil dan menghampiri wanita itu. Tapi, mungkin karna takut dan terkejut wanita itu justru malah lari. Meninggalkan Ibu yang mencoba meneriakinya dan..meninggalkan kardus besar itu. Betapa kagetnya Ibu ketika beliau membuka kardus itu, tampaklah seorang bayi kecil yang sedang tertidur. Wajahnya yang lucu dan tanpa dosa seperti malaikat. Aku.

Didalam kardus itu juga terselip sebuah amplop. Isinya sebuah kertas dengan goresan pena yang mengotorinya. Disitu tertulis :

–          Tolong rawat anak ini dengan baik. Terima kasih –

Jadilah Ibu mengadopsiku. Mengasuh dan membesarkan aku. Beliau bilang aku adalah hadiah paling indah yang dikirimkan Tuhan untuk melengkapi kehidupan beliau bersama suaminya –ayah angkatku-.

Ibu juga menasihatiku bahwa aku tidak boleh membenci kedua orang tua kandungku. Meskipun pada kenyataannya mereka memang membuangku, tapi..mereka pasti punya alasan kuat mengapa mereka melakukan itu. Sebuah alasan yang aku pertanyakan dan harus aku maklumi.

Sampai detik ini aku terus berusaha mencari keberadaan kedua orang tua kandungku itu. Bagaimanapun mereka tetaplah orang tua kandungku. Orang yang memberiku kesempatan untuk menghirup nafas didunia ini. Sudah menjadi kewajibanku untuk berbakti pada mereka. Aku tidak peduli bagaimanapun keadaan mereka, cakep atau jelek, kaya atau miskin, sehat atau sakit-sakitan, atau bila mereka seorang perampok dan pengebom sekalipun aku tidak peduli. Sekali saja dalam hidupku aku ingin bertemu mereka dan mengucapkan terima kasih karna telah melahirkan aku ke dunia ini. Ibu dan Ayah angkatku juga membantuku mencari kedua orang tua kandungku. Mereka yang selalu men-support agar aku tidak menyerah.

Kini aku sangat menyadarinya. Tuhan teramat sayang padaku. Dia memberikan banyak kebahagiaan untukku dengan cara yang berbeda. Yang harus kulakukan adalah…mensyukuri dan menjaga agar kebahagiaan itu bisa bertahan.

# THE END #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s