[FF] One Day (The Best Feeling)

Judul  :

One Day (The Best Feeling)

Main Cast :

Park Chanyeol (EXO-K) & You

Length :

Oneshoot

Genre :

Romance

Author :

“D”

 

————————–

Kamu mengetuk-ngetuk meja dengan kesal. Memandang malas pada makanan yang terhampar diatasnya. Bukan karna makanan itu tidak enak. Bukan. Kamu bahkan belum menyipinya. Ya, walaupun memang keliatannya enak tapi badmoodmu lebih besar dan mengalahkan rasa laparmu. Kamu sungguh tidak bergairah untuk menyantapnya.

Sudah satu jam lebih dirimu berada disini. Seharusnya sekarang ini kamu sedang duduk manis bersama seorang namja yang juga duduk dihadapanmu. Menikmati makan malam yang lezat ini, mengobrol bersama, bersenda gurau dan tertawa. Tapi apa yang terjadi sekarang? Kamu duduk sendiri di meja bundar dengan dua kursi ini, memasang muka kesal dan menopang dagu, berkali-kali menempelkan handphonemu ke telinga –mencoba menghubungi namja itu-, dan bahkan kamu juga tidak menyentuh makanan mahal itu sedikitpun.

Kamu mendengus sebal untuk yang kesekian kalinya. Kamu tahu para pengunjung yang lain pasti sedang memandang aneh pada dirimu. Seorang diri di sebuah restoran besar dan tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk dan menunggu.

Kamu meraih gelas bening yang berisikan sedikit wine. Meneguknya sedikit sekedar untuk menenangkan dirimu. Tapi tentu saja itu tidak berhasil. Mengambil handphonemu –lagi-, mengecek pada menu log. Tidak ada panggilan masuk ataupun panggilan tak terjawab disana. Haish, kemana namja itu? Tidak menjawab teleponku dan juga tidak berusaha menelepon balik. Kamu mengomel. Kamu membaca kembali pesan singkat yang ia kirimkan tadi siang.

–          Nanti malam kita ketemuan di Restoran Red Light jam 7. Dandan yang cantik ya sayang. Oke? >,< –

Ingin sekali kamu membanting handphone itu ketembok dan menumpahkan seluruh makanan diatas meja itu ke lantai. Tapi kamu masih waras dan sadar. Tidak mungkin kamu melakukannya tepat dihadapan para pengunjung restoran yang ramai kan? Jika dilakukan, kamu akan dianggap gila dan dianggap sebagai perusak suasana tenang disini. Dan pastinya, para pelayan akan menarik paksa tanganmu untuk keluar dari tempat menyebalkan ini.

Kemana sih namja itu? Apa dia lupa kalau dia ada janji denganku? Apa dia sedang sibuk memenuhi jadwal padatnya itu? Tapi, kalau dia memang sedang sibuk, kenapa dia harus membuat janji ini denganku? Atau…apa dia sedang berduaan dengan gadis lain diluar sana? Hah, apa dia punya cukup keberanian untuk melakukannya? Awas saja kalau dia benar-benar begitu, dia tidak akan kulepaskan dan akan kucincang tubuh jangkungnya itu. Kamu mulai berpikiran negative.

Kembali kamu menopang dagumu, menghela nafas berat dan memandang bodoh pada gelas wine. Memandangi beberapa meja disekitarmu. Setiap orang punya lawan bicara masing-masing. Tidak seperti dirimu yang hanya sendiri. Sudah satu jam lebih. Haruskah aku pergi begitu saja meninggalkan restoran ini? Itu ide yang bagus. Tapi entah mengapa rasanya kaki dan hatimu sangat berat untuk beranjak dari sini. Seakan-akan menyuruhmu untuk tetap menunggu sebentar lagi.

Tak sengaja matamu menoleh ke arah pintu masuk. Dan menangkap sesosok namja yang memang sudah kamu tunggu sedari tadi. Namja yang membuatmu kesal dan frustasi. Dia mengenakan kaos oblong berwarna abu-abu, jeans biru dongker, dan sneaker converse kesayangannya. Penampilannya sangat kontras dengan dirimu yang memakai dress malam hitam mengkilap, high heels warna senada, rambut yang sengaja kau buat sedikit bergelombang dengan tambahan pita sebagai pemanis. Dan apa-apaan dia? Kamu berpikir kamulah yang paling keliatan bodoh tapi ternyata ada yang melebihimu. Namja itu tersenyum garing pada semua orang yang ada direstoran ini. Pada pelayan dan pengunjungnya. Pada cleaning service dan para pemain musik. Norak dan itu memalukan.

Langkahnya semakin dekat menuju mejamu. Senyuman manis tak juga hilang dari wajah tampannya itu. Heh, kamu jengah. Tak tahukah dia berapa lama aku menunggunya? Tak tahukah dia betapa kesalnya aku? Batinmu. Namja itu menarik kursi dan duduk dihadapanmu. Mengambil gelas wine, meneguknya, dan memainkan gelas itu ditangan kanannya. Dia tersenyum sendiri. Dan kamu tak dapat mengartikannya. Seharusnya tidak begini kan? Bukankah seharusnya dia datang tergesa-gesa dan meminta maaf padaku dengan ekspresi panik? Tapi dia tak melakukannya. Apa tidak ada rasa bersalah sedikitpun dalam dirinya? Kamu tetap diam melihatnya dan hanya berbicara didalam hatimu. Melihat sikap cuek dan semena-menanya itu membuatmu sedih. Kamu tahu matamu sudah memerah sekarang, menahan emosi. Tapi kamu tidak boleh menangis. Kamu menahan nafas sejenak, mencoba menahan segala rasa kesal dan sedih yang sudah mencapai tahap maksimal. Tetap, kamu tidak mau menangis dihadapannya. Itulah prinsipmu. Kamu tidak ingin terlihat cengeng.

“Kau….” Ujarmu pelan. Walaupun suaramu kecil, tapi kamu yakin dia mendengarnya. Tetapi dia menghiraukanmu. Dia tetap asyik bermain dengan gelas wine. Oh Tuhan, kumohon kuatkan aku. Jangan buat aku menangis didepan namja ini.

Chanyeol meletakkan kembali gelas wine yang sedari tadi ia pegang ke atas meja. Dia tersenyum penuh arti padamu. Dia terlihat sangat…puas?

Lalu dia menggesekkan ibu jari dan jari tengah tangan kanannya.  Seperti memberi tanda. Kamu  tak mengerti.

Happy birthday to you | happy birthday to you | happy birthday happy birthday | happy birthday…. (your name) |

Kamu terperangah. Tiba-tiba mendengar para pemain musik mengumandangkan lagu selamat ulang tahun. Dan mereka menyebutkan namamu pada bait terakhir lagu itu. Matamu tetap fokus memandang pada para pemain musik itu. Dalam hati, kamu bertanya-tanya kenapa mereka bisa menyebutkan namamu dalam lagu itu?

Happy birthday to you | happy birthday to you | happy birthday happy birthday | happy birthday…. (your name) |

Kembali kamu mendengar lagu selamat ulang tahun itu dinyanyikan. Namun sekarang bukan para pemain musik tadi yang menyanyikannya. Lantunan lagu itu terdengar lebih besar dan riuh. Betapa terkejutnya dirimu ketika melihat apa yang terjadi. Apa ini? Semua pengunjung restoran berdiri dari tempat duduk mereka dan melihat ke arahmu dengan senyum mengembang. Dan merekalah yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun tadi. Kamu juga bisa melihat kalau semua para pengunjung restoran memegang sesuatu di tangan mereka. Sebuah gulungan karton? Lalu mereka dengan segera membuka gulungan karton tersebut dan secara bersamaan mengangkatnya ke udara. Sekarang kamu dapat melihat dengan sangat jelas sebuah tulisan yang mengisi karton putih itu.

Happy Birthday To You. . . .(your name) . Saranghae!

Jelas saja kamu sangat heran dan terkejut. Hari ini memang hari ulang tahunmu, tapi bagaimana bisa…………?

Pasti ada seseorang yang bertanggung jawab atas semua kejadian ini, kan? Ya, itu pasti. Tapi siapa? Chan. .yeol? tanyamu pada dirimu sendiri.

Kamu segera mengalihkan pandanganmu menatap Chanyeol. Dia beranjak berdiri dari duduknya. Melayangkan senyuman termanisnya padamu.

Happy birthday to you | happy birthday to you | happy birthday happy birthday | happy birthday…. To you  |

Chanyeol bernyanyi seraya berjalan mendekatimu. Kamu terdiam mematung melihatnya. Dia semakin dekat ke arahmu. Membuatmu semakin tegang dan gugup. Dia menarik tangan kananmu, menyuruhmu untuk berdiri.

“Happy Birthday. Aku mencintaimu.” ucapnya padamu.

Kamu tetap terdiam. Mencoba mencerna peristiwa yang sedang terjadi dan mencerna perkataan Chanyeol.

Apa. . .dia yang melakukannya?

Tak bisa dibendung lagi, tiba-tiba air mata sudah jatuh dengan deras membasahi pipi putihmu. Saat ini kamu sangat bahagia. Tidak ada lagi rasa kesal, benci dan marah yang melandamu seperti beberapa menit yang lalu. Perasaan itu pergi dan hilang. Tergantikan dengan rasa bahagia dan haru.

Chanyeol memandangmu heran. Tangannya bergerak cepat menghapus air matamu.

“Kenapa. .kau menangis?” tanyanya pelan. Tangisanmu belum juga reda. Malah sekarang ditambah dengan isakan.

Bodoh. Dasar bodoh. Ini semuakan juga gara-gara dirimu tau. omelmu –masih- dalam hatimu.

“Maaf. Ini semua memang salahku. Berpura-pura melupakan hari ulang tahunmu dan membuatmu menunggu lama. Aku sudah membuatmu kesal. Maafkan aku.”

Dia menarikmu kedalam pelukannya. Membuatmu bersandar pada dada bidangnya. Hangat. Pelukannya sangat hangat. Membuatmu merasa nyaman dan tenang. Tubuh kalian yang menempel (?) membuatmu bisa mendengarkan detak jantung Chanyeol. Detak jantungnya sangat keras. Seirama dengan milikmu.

Dengan perlahan, kamu melepaskan diri dari pelukan Chanyeol. Mengusap matamu yang sembab dan pipimu yang sedikit lengket akibat cairan asin yang tadi kau keluarkan. Kemudian kamu menatap Chanyeol. Dia juga menatapmu dan tersenyum. Benar-benar terlihat tampan dimatamu.

“Maaf.”

Kamu menggelengkan kepalamu pelan. Mencoba memberi tahu pada Chanyeol bahwa dia tidak bersalah dan tidak perlu minta maaf.

“Kau. . .selalu saja melakukan hal itu.” katamu pada akhirnya.

“Melakukan apa, eoh?” Chanyeol terkekeh geli.

“Membuatku kesal lalu sedetik kemudian. . .membuatku bahagia.” Kamu sedikit cemberut.

“Baiklah, untuk kali ini maukah kau memaafkanku? Karna aku akan menambahkan sebuah kebahagiaan lagi untukmu.”

Tanpa menunggu jawabanmu, Chanyeol berlutut dihadapanmu. Memegang tangan kananmu lembut. Menatap intens kedalam manik matamu. Menyalurkan betapa besarnya dia mencintaimu. Kamu pun menatapnya. Tak ingin sedetik pun melepaskan pandanganmu terhadapnya. Menangkap perasaan cinta yang besar yang tersirat pada mata coklatnya yang teduh. Kamu bertanya-tanya apa lagi yang akan dilakukan Chanyeol kali ini.

“Kau tau kan. . .” Chanyeol menggantungkan kalimatnya. Membuatmu semakin penasaran dan gelisah.

“Aku ini. .sangat mencintaimu. Kau adalah satu-satunya yeoja yang kucintai di dunia ini. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Sehari pun, aku tidak bisa bila tidak melihatmu. Aku tau, aku ini namja bandel dan menyebalkan. Aku sedikit egois dan sering membuatmu marah. Terkadang aku juga membentakmu dan membuatmu sedih. Meskipun begitu, masih maukah kau menikah denganku?”

Kamu benar-benar tak berkutik saat ini. Kamu merasa kehilangan tempat berpijak dan terbang. Kamu merasakan dadamu sangat sesak karna dipenuhi jutaan rasa bahagia. Hatimu bahagia. Chanyeol , pria yang kamu cintai itu melamarmu. Hari ini. Detik ini juga.

Kamu masih diam. Bukan karna menimbang-nimbang lamaran Chanyeol. Tentu saja, apalagi yang harus dipikirkan? Kamu mencintai pria itu. Tentu kamu akan menerima lamarannya tanpa ragu. Kamu diam karna kamu mencoba menenangkan dirimu. Mengumpulkan banyak oksigen hanya untuk menganggukkan kepalamu dan mengatakan ‘iya, aku mau’. Chanyeol tetap fokus menatapmu. Menunggu dengan sabar jawaban apa yang akan keluar dari bibir mungilmu. Berharap itu adalah jawaban yang menyenangkan.

“Ng. .iya.” jawabmu sambil tersenyum dan mengangguk tegas. Rasanya sangat sulit sekali bagimu hanya untuk sekedar mengucapkan kata pendek itu. Kamu terlalu bahagia.

Kamu dapat melihat raut bahagia terpancar jelas dari wajah Chanyeol. Dia menyunggingkan senyuman senangnya. Begitu pun kamu, tersenyum bahagia atas lamarannya dan atas jawabanmu. Kalian belum juga memutuskan kontak mata kalian. Mencoba membaca setiap perasaan yang tertulis di balik tatapan itu. Mencoba membaca hati dan pikiran masing-masing. Kalian tenggelam kedalam dunia bahagia yang kalian ciptakan berdua.

PROKK..PROKK..PROKK..

Sadar. Kalian kembali sadar dan seketika memutuskan kontak mata itu ketika mendengar semua orang bertepuk tangan. Mereka juga tersenyum bahagia atas kalian. Kalian berdua menjadi sedikit malu dan salah tingkah. Astaga, ini ramai sekali. Katamu dalam hati.

Chanyeol bangkit berdiri. Ia melihatmu sekilas dan kemudian merogoh saku celananya. Tangannya mengeluarkan dan memegang sebuah benda dari dalam saku celananya. Benda itu tidak terlalu besar dan berwarna merah mawar. Sebuah kotak.

Chanyeol membuka kotak kecil itu. Sekarang terlihat jelaslah apa isinya. Kamu menutup mulutmu dengan tangan ketika melihat benda itu. Sangat cantik, pikirmu. Kecil, putih dan bercahaya. Sebuah cincin. Lagi dan lagi air mata bahagia keluar dari mata hitammu. Mewakili perasaan bahagia dan haru yang tengah kau rasakan. Chanyeol mengambil tanganmu. Ia memasangkan cincin itu pada jari manismu.

“Ini sangat cocok untukmu. Terlihat semakin cantik.” Pujinya.

Kamu tidak tahan lagi. Kamu segera memeluk Chanyeol. Tidak peduli akan ramainya orang yang melihat ke arah kalian sekarang. Kamu hanya ingin membagikan perasaan senang ini kepadanya. Demi Tuhan, kamu benar-benar sangat bahagia hari ini. Kamu bahkan tidak dapat mengukur seberapa besar rasa bahagiamu. Yang kamu tau hanyalah kamu sangat bahagia.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

“Aiiissshhh…wae? Kenapa dari tadi kau menatapku terus sih? Ehm…aku tambah tampan ya?”

“Ya.” Kamu menganggukkan kepalamu keras. Tidak seperti biasanya, biasanya kamu akan memasang tampang cemberut dan memukul lengannya ketika Chanyeol sudah mulai menunjukkan kenarsisan dirinya. Kali ini kamu malah setuju dengan pertanyaan pedenya itu. Chanyeol terkekeh geli melihat tingkahmu. Dia makin menguatkan genggaman tangannya padamu. Malam ini kalian berjalan bersama, berdua di taman. Chanyeol berhenti untuk duduk di bangku taman itu. Kamu pun juga duduk disamping Chanyeol.

Langit sangat indah malam ini. Banyak bintang yang berkelap-kelip. Bulan pun menampakkan dirinya dengan sempurna. Angin berhembus pelan, menciptakan nuansa segar, tapi tidak membuatmu menggigil kedinginan. Suasana malam yang cerah. Lagi, kamu melihat ke arah Chanyeol. Kamu benar-benar terpesona dengan wajah tampan yang ia miliki. Kamu merasa bahwa kamu tidak akan pernah bosan untuk memandanginya sepanjang hari. Chanyeol menengadahkan kepalanya memandang langit. Pandangannya lurus dan terfokus pada langit yang bercahaya karena adanya bintang dan bulan yang memenuhinya..

“Apa kau senang?” Chanyeol membuka pembicaraan. Dia bertanya padamu.

Kamu mengangguk.

“Tentu saja. Hari ini kau memberikanku banyak kejutan yang menyenangkan.” Jawabmu seraya memandang pohon sakura yang ada didepanmu.

“Sebenarnya. . . aku masih punya kejutan terakhir untukmu.”

“Eh?” sontak kamu menoleh padanya. Dia tersenyum tulus dan menatap dalam pada manik matamu. Perlahan dia mendekatkan wajahnya padamu. Membuat sekujur tubuhmu mati rasa. Wajahnya semakin dekat dan kini kamu dapat merasakan hembusan nafasnya yang hangat menyapu permukaan kulitmu, serta aroma tubuhnya yang membuatmu gila. Seperti diikat, kamu benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali sekarang ini.

‘Cuuupp’

Dia menempelkan bibirnya pada bibirmu. Membuat desiran aneh pada aliran darahmu. Menghentikan sejenak kerja otak dan jantungmu. Membuat nafasmu tercekat. Dia menutup matanya dan kamu pun mengikutinya. Kalian berdua memejamkan mata terhanyut dalam ciuman kalian. Ciuman yang manis namun sangat memabukkan –bagimu-.

‘GEDEBUUUKKKKK’

“Aaaaawwwwww.”

Kamu meringis ketika merasakan sakit pada bagian bokongmu. Kamu mengusap lembut bokongmu mencoba meredam rasa sakitnya. Sedetik kemudian kamu baru sadar akan posisimu kini. Kamu sedang terduduk di lantai kamarmu dengan sebuah guling yang terhimpit ditengah-tengah kakimu. Kamu melihat ke arah samping kirimu. Melihat tempat tidurmu.

“Haiiiissshhh, walaupun tidak tinggi, tetapi kalau jatuh dari kasur ini sakit juga. Pabo.” Kamu memukul-mukul kepalamu pelan dan segera bangkit dari dudukmu. Menuju ranjang dan ingin melanjutkan tidur nyenyakmu yang sempat terganggu. Tiba-tiba matamu melirik sebuah poster besar yang tertempel pada dinding dibelakang meja belajarmu. Entah mendapat dorongan darimana, kaki ringanmu menuntun langkahmu untuk mendekati poster itu.  Kamu terdiam memandangi poster besar itu. Poster yang memuat gambar seorang namja yang berdiri di atas panggung dan tengah memegang mic. Namja itu tetap tersenyum ceria meskipun keringat telah turun deras dari keningnya. Menandakan bahwa dia lelah. Hatimu menjadi hangat dan sebuah senyuman bahagia terukir di wajahmu.

“Terima kasih, Park Chanyeol. Itu. . . adalah mimpi yang paling indah.”

|T.H.E.E.N.D | 

One thought on “[FF] One Day (The Best Feeling)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s