[FF] Revenge (Part 1 Of 2)

Title :

Revenge (Part 1 Of 2)

Author :

“D”

Main Cast :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Support Cast :

Byun Jin Woo, Byun Hanna, Jang Nara

Genre :

Teen, Friendship, Kekerasan, Pembunuhan

Hai Hai Hai . . . .

Kali ini pengen nyoba dengan sesuatu yang sadis dan kejam.

Huahahahaha *dilempar sendal*

Tapi adegan2 #eeeaaa kaya’ pelem ajee ye# yang sadisnya d part 1 ini belom ada, ntar adanya di part 2. 

Sebenarnya part 2 nya juga udah kelar sih, tapi nge-postnya ntar aja deh, tunggu ntar lebaran monyet aja aku baru post part 2 nya (¬˛ ¬”) 

FF ini murni hasil pemikiran aku selama 7 hari bersemedi di gua hitam (?) *apaan coba* , so DON’T BE A PLAGIATOR !!!!

Chanyeol POV

Tokk..tokk..tokk..

Kuketuk pintu berwarna coklat tanah itu beberapa kali. Namun tak juga kudengar jawaban dari dalam. Aku terdiam sesaat, memikirkan kemungkinan yang sedang terjadi. Apa dia sedang tidur ya? Atau. .dia pingsan? Baguslah kalau dia memang pingsan!

“Eeeuummmbbh…sii..apaa?”

Kedengar suaranya menjawab. Begitu lirih dan lemah. Aku mendengus. Hah, rupanya dia masih hidup? Kukira sudah mati.

“Ini aku, Baekhyun-ah.” Jawabku sedikit berteriak.

“Oh..kau Yeol. Masuklah.”

Aku memantapkan langkahku. Kudorong pintu besar itu perlahan. Memberi akses agar aku bisa masuk kedalam.

Dia melihatku dan mencoba menegakkan posisinya sehingga dia kini duduk bersandar pada headboard ranjang. Aku tersenyum dan berjalan mendekati ranjangnya. Senyuman munafik.

Kuletakkan nampan yang kupegang sedari tadi –yang berisikan bubur dan minuman untuknya- di meja disamping ranjang.

“Bibi menyuruhku mengantarkan bubur ini untukmu. Makanlah. Biar kau cepat sembuh.” aku duduk disampingnya.

“Hehehe….terima kasih Yeol-ah.”  Lagi-lagi dia tersenyum padaku. Menyebalkan. Senyumannya itu sangat memuakkan. Ingin sekali kupotong bibirnya itu agar dia tidak bisa tersenyum lagi.

“Bagaimana keadaanmu?” aku berbasa-basi.

“Hem. .aku baik-baik saja kok. Demamku juga sudah turun. Tidak usah terlalu khawatir begitu.”

Hah, Khawatir? Siapa juga yang khawatir padanya?  Aku bahkan berharap dia cepat mati. Aku bertanya bukan karna aku khawatir. Aku hanya sedikit. . .sedikit ‘bermain aman’.

“Aku rasa, besok aku sudah bisa masuk sekolah lagi kok.” Baekhyun mengambil mangkuk bubur yang ada di meja dan mulai menyantapnya.

“Hem…” responku. Aku malas menanggapinya.

“Kalau begitu aku keluar dulu ya, aku mau mandi.”

“Ya..mandilah sana. Pantas saja sedari tadi aku mencium bau asem, rupanya itu berasal darimu. Huahahaha.” Tawanya meledak. Meledekku. Aku hanya bisa memasang tampang pura-pura cemberut.

Aku segera beranjak berdiri dan keluar dari kamar Baekhyun. Panas..Panas.. hatiku benar-benar panas saat ini. Bukan karna ucapan Baekhyun barusan. Aku sama sekali tidak tersinggung mendengarnya mengatai aku yang ‘bau asem’. Bukan itu. Hatiku memang selalu terasa panas dan terbakar setiap kali aku melihat dan berhadapan dengan tampang sok polos Byun Baekhyun itu. Aku memang membencinya. Sangat. Aku benci dia dan keluarganya. Terutama . . .Ayahnya.

Aku, Park Chanyeol. 17 Tahun. Orang tuaku sudah meninggal sekitar setahun yang lalu. Meninggal secara tak wajar. Mereka dibunuh secara sadis. Ayahku ditemukan mati di kamar mandi rumah kami dengan puluhan luka tusuk di badannya dan tangan yang nyaris putus. Ibuku lebih parah, dibunuh dan hati serta isi perutnya yang ditarik keluar. Cara meninggal yang sangat mengerikan hanya sekedar untuk dibayangkan. Dan jangan kira aku tidak tahu siapa pembunuhnya. Pembunuhnya itu adalah Byun Jin Woo. Ayah Byun Baekhyun.

Aku masih ingat, hari itu..setelah pemakaman dia datang menemuiku. Memasang tampang sok simpati dan menangis munafik. Sok berduka cita atas meninggalnya kedua orang tuaku dan merasa iba atas keadaanku yang sekarang sebatang kara. Benar-benar menjijikkan. Dia menawariku untuk tinggal dirumahnya. Mengangkatku sebagai anak, membayar biaya sekolahku dan juga. . .menyuruhku berhubungan akrab dengan anak semata wayangnya, Baekhyun. Licik. Setelah dengan sadisnya dia menyuruh orang untuk membunuh Ayah dan Ibuku, sekarang dia malah sok menolongku. Mencoba menarik simpatiku dan orang-orang. Menyembunyikan kebenaran dibalik kebaikan hatinya yang palsu. Tapi, pada akhirnya kusetujui juga tawarannya itu. Tinggal bersama keluarga Byun adalah hal terburuk dan paling menyiksa dalam hidupku. Bukan karna mereka berlaku buruk padaku. Mereka memperlakukanku dengan baik. DENGAN SANGAT BAIK. Atau. . .haruskah kubilang PURA-PURA BAIK? Tinggal bersama mereka sama saja dengan memperbesar luka didalam hatiku dan memperkuat perasaan dendamku. Ya,  tujuanku tinggal di rumah keluarga Byun adalah karna aku ingin membalaskan dendam kedua orang tuaku.

>O<>O<>O<>O<>O<>O<

“Chanyeol-ah, bagaimana kalau hari ini kita pergi nonton bersama? Ada film bagus loh.”  Tanya Baekhyun saat kami sedang duduk di kantin sekolah dan menyantap makan siang. Seperti biasa, hari ini lagi dan lagi, aku menghabiskan waktu istirahat makan siangku bersama Baekhyun. Owwhh, sudahkah aku ceritakan bahwa aku dan Baekhyun satu sekolahan? Yuppss, setelah orang tuaku meninggal dan aku tinggal di kediaman Byun, Tuan Byun Jin Woo memindahkanku ke sekolah yang sama dengan anak laki-lakinya itu. Aku dan Baekhyun dikenal sebagai sahabat dekat di sekolah. Kami sekelas, sebangku dan selalu terlihat bersama kapan dan dimana saja. Aku rasa, aku ini hanyalah satu-satunya sahabat terbaik  Byun Baekhyun. Aku tidak pernah melihat Baekhyun terlihat begitu akrab dengan orang lain. Maksudku, dia namja yang ramah dan mudah bergaul. Semua teman-temanku di sekolah ini menyukai Baekhyun dan menganggapnya sebagai anak yang baik. Hanya saja Baekhyun memang tidak punya teman yang benar-benar dekat dengannya. Baekhyun pernah bercerita kalau dia bukanlah orang yang mudah percaya dengan orang lain. Termasuk dalam hal pertemanan. Dia pernah dikhianati oleh sahabat karibnya beberapa tahun yang lalu. Hal itulah yang membuat dia tidak ingin mempunyai teman yang benar-benar dekat dengannya lagi. Dia takut dikhianati kembali. Hah, dasar pengecut. Dan sekarang dengan sangat bodohnya dia bilang bahwa aku adalah SAHABAT TERBAIKNYA. Hahahaha. . . .membuat hatiku tertawa saja. Dia bilang tidak percaya pada orang lain, tapi dia malah mempercayaiku. Dia tidak tahu, kalau sikapku selama ini hanyalah sebuah sandiwara. Sudah aku bilangkan ‘aku bermain aman’. Ini bukan saat yang tepat. Tunggulah sebentar lagi, ‘pertunjukkan’ akan dimulai dan akan ku pastikan dia bisa melihat sisi diriku yang sebenarnya.

“Aku tidak bisa Baekhyun-ah. Nanti sore aku ada latihan band sampai malam.”

Tentu saja aku bohong. Hari ini aku tidak ada latihan band sama sekali. Lebih tepatnya, aku sudah keluar dari band ku sejak 4 bulan yang lalu. Baekhyun tidak tahu tentang hal itu. Tidak penting juga kan jika aku harus memberitahunya urusan pribadiku.

“Baekhyun Oppa.”

Seseorang memanggil nama Baekhyun. Sontak, aku dan Baekhyun menoleh ke arah sumber suara. Kami –aku dan Baekhyun- mendapati seorang yeoja tengah berlari menuju tempat kami duduk. Jang Nara. Kekasih Baekhyun. Nara itu adik kelas kami. Dia dan Baekhyun sudah berpacaran cukup lama. Sekitar satu setengah tahun. Baekhyun sangat sayang pada yeoja manis itu. Itulah yang dia ceritakan padaku.

“Baekhyun Oppa, apa hari ini kau sibuk?” Nara bertanya dengan nada manja. Memasang tampang sok imut dan mengapit tangan Baekhyun. Haiiissshh, dasar yeoja manja!

“Ah..ah..Nara-ya. Apa yang kau lakukan?” Baekhyun terlihat tidak suka dengan sikap manja Nara. Buktinya, dia malah melepaskan apitan tangan Nara pada lengannya. Mungkin dia sedikit malu karna dilihat oleh banyak mata, termasuk aku yang ada didepannya.

“Wae?” Nara bertanya dengan wajah polosnya yang sedikit cemberut.

“Jangan bersikap manja begitu, Jang Nara. Aku tidak suka.” Baekhyun setengah berbisik bicara dengannya. Nara hanya menjawab dengan helaan nafas.

“Ohh. .ada Chanyeol Oppa. Annyeong Oppa.” Sapa Nara setengah membungkukkan badannya. Haiisshh, aku kan sudah berada disini sejak tadi. Masa dia baru menyapaku sih? Masa dia baru menyadari keberadaanku? Memangnya tadi itu aku tidak terlihat apa? Dasar yeoja!

“Oppa.” Nara kembali bersikap manja pada Baekhyun.

“Ayo kita pergi bersama sore nanti. Kita pergi nonton, ya?” Dia mulai menarik-narik lengan baju Baekhyun.

“Haiiisshhh, ada apa sih denganmu?”

“Hem Hem. . .Oppaaaaa, ayo kita pergi nonton.” Nara merengek. Baekhyun menatap kearahku. Dia menggerakkan dagunya. Minta pertolongan. Aku hanya mengangkat bahu tanda bahwa ‘aku tidak tahu dan tidak ingin terlibat’.

Baekhyun POV

Aku tidak tahu ada apa dengan Nara. Tiba-tiba saja dia datang dan mengajakku jalan dengan sikap manja. Tidak seperti biasanya. Ini bukanlah dirinya. Nara yang kukenal bukanlah gadis manja yang suka merengek seperti ini.

Aku melihat ke arah Chanyeol. Berharap dia mau membantuku mencari alasan untuk menolak permintaan Nara. Entah mengapa hari ini rasanya aku sangat malas untuk pergi berduaan dengan Nara. Aku lihat Chanyeol hanya mengangkat bahunya. Haaiiissshhh…..menyebalkan.

“Ehm. . .aku tidak bisa. Nanti sore aku ada janji dengan Chanyeol. Ada urusan penting. Ya kan, Yeol?” aku menyenggol kaki Chanyeol dan mengedipkan sebelah mataku. Berharap Chanyeol tahu maksudku.

“Janji? Janji apa? Maksudmu nonton bersama? Bukankah sudah kukatakan aku tidak bisa, aku ada latihan band nanti sore.”

GUBRRRAAAKKK

Dasar Park Chanyeol! Apa sih yang dia katakan? Bukannya membantuku dengan berpura-pura tapi malah berbicara jujur seperti itu. Benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.

Nara terlihat bingung melihat ke arahku dan Chanyeol secara bergantian. Aku hanya bisa tersenyum kikuk kepadanya sambil menggaruk tengkukku. Mati aku ketahuan berbohong. Ini semua gara-gara Chanyeol.

“Kenapa kau tidak pergi dengan Nara saja? Bukankah kau bilang ada film yang ingin kau tonton, dan Nara juga begitu. Kau dan Nara sama-sama ingin pergi nonton. Ya sudah, pergi berdua saja.”

HUUUUAAAAAHHHH Park Chanyeol, apa yang kau lakukan? Ingin sekali kujitak kepala Chanyeol sekarang ini. Kenapa dia malah menyuruhku untuk pergi bersama Nara? Aku kan sedang malas untuk pergi dengan Nara. Eh tapi dia malah menyarankan ‘Ya sudah, pergi berdua saja’. Kenapa dia terlalu jujur sih? Kenapa tidak bisa diajak untuk berbohong sedikit saja.

“Aku duluan.”

Chanyeol dengan seenak jidatnya pergi meninggalkan aku dan Nara. Haiiissshh. .dasar anak itu! Bukannya bertanggung jawab atas ucapannya, dia malah kabur. Awas kau Park Chanyeol, akan kubalas kau dirumah nanti.

“Oppppaaaaaa. . .” rengekan Nara semakin menjadi. Malah sekarang tarikannya pada lenganku semakin kuat. Aduh, aku sungguh tidak tahan. Kalau begini terus, terpaksalah aku turuti apa kemauannya.

>O<>O<>O<>O<>O<>O<

Chanyeol POV

Makan malam tiba. Seluruh keluarga Byun termasuk aku berkumpul untuk makan malam bersama. Byun Jin Woo duduk memimpin di kursi tengah, Nyonya Byun duduk disebelah kanannya, sedangkan aku dan Baekhyun duduk disisi kiri. Haiissh….seperti keluarga ‘sungguhan’ saja. Jika sudah seperti ini, aku jadi mengingat masa laluku. Dimana ketika Ayah dan Ibuku masih hidup, kami selalu makan malam bersama. Duduk di satu meja besar, makan sambil mengobrol. Aku rindu saat-saat itu. Hah, seandainya saja mereka masih hidup. Seandainya saja mereka tidak meninggal. Mengingat hal itu lagi, membuat darahku mendidih cepat.

Ini semua gara-gara Byun Jin woo. Semua salahnya. Dasar pria jahat. Dasar pengkhianat. Sampai sekarang pun, rasanya aku masih tak percaya. Bagaimana mungkin seorang Byun Jin Woo itu dapat dengan sangat kejamnya membunuh kedua orang tuaku yang notabene rekan kerja sekaligus teman dekatnya. Jahat bukan? Dia memperlakukan ‘teman’ nya seperti itu. Membunuh, untuk menguasai perusahaan Ayahku. Yups, dengan meninggalnya Ayahku, secara otomatis Tuan Byun yang merupakan orang terpenting kedua di perusahaan Ayahku mengambil alih perusahaan tersebut secara keseluruhan. Sekarang, Tuan Byun itulah yang menjadi Presiden Direktur Perusahaan IT yang Ayahku miliki. Menyebalkan, licik, kejam, biadab. Demi menguasai perusahaan dia rela melakukan cara kotor.

“Chanyeol-ah, kenapa kau tidak makan?” Baekhyun membuyarkan lamunanku.

“Oh. .ya.”

Byun Baekhyun. Nyaman sekali hidupnya. Bahagia bersama kedua orang tua yang amat ia cintai. Tanpa kekurangan satu materi pun. Dia masih bisa hidup dengan merasakan kasih sayang dan kehadiran Ayah beserta Ibunya. Dia bisa mendapatkan segala macam barang yang dia mau. Tinggal sebut saja, maka dalam sekejab Ayahnya itu akan membelikannya. Apa. .dia tidak tau Ayahnya itu menghasilkan uang dengan cara yang kejam? Apa. . dia tidak tau keluarga mereka itu hidup nyaman di atas penderitaan yang aku dan orang tuaku rasakan? Apa dia tidak tau kalau Ayahnya itu. . .seorang pembunuh? Hah, mana mungkin dia tau. Mana mungkin juga Byun Jin Woo menceritakan aibnya sendiri kepada anaknya itu. Aha, bagaimana kalau aku saja yang menceritakan pada Baekhyun kalau Ayahnya itu seorang pembunuh. Tapi pasti Baekhyun tidak akan percaya segampang itu. Dia pasti berpikir, tidak mungkin Ayah yang selama ini selalu ia banggakan dan selalu menjadi panutannya itu melakukan hal keji seperti membunuh orang. Tapi, apa mau dikata lagi. Kalau dibilang tak percaya, aku pun juga tak percaya. Tapi kenyataan berkata lain. Memang dialah yang telah membunuh kedua orang tuaku.

“Ehm, Baekhyun, Chanyeol. Besok pagi, Ayah dan Ibu akan berangkat ke Inggris untuk kepentingan bisnis. Kemungkinan kami disana selama 2 minggu. Kalian jaga rumah baik-baik ya dan juga jangan nakal.”

Tuan Byun mulai bersuara. Kami berempat telah selesai makan malam. Inggris? Jauh sekali. Aku tidak tau ‘kepentingan bisnis’ apa yang dimaksud oleh Tuan Byun. Tapi, aku berharap dia mendapatkan rintangan yang berat dan sulit dalam ‘kepentingan bisnis’nya itu. Dan aku juga berdoa semoga pesawat yang dia dan istrinya tumpangi itu jatuh ke laut dan jasad mereka dimakan ikan hiu dan tidak bisa ditemukan. Dengan begitu kan, aku tidak perlu susah-susah melaksanakan aksi balas dendamku padanya. Hanya perlu membunuh anaknya saja.

“Tenang saja, Ayah, Ibu. Kalian tidak perlu khawatir. Aku dan Chanyeol tidak akan berbuat sesuatu yang akan membuat kalian khawatir kok.”

Ehm. . .sedikit koreksi. Baekhyun memang tidak mungkin berbuat nakal dan membuat khawatir orang tuanya. Tapi tidak denganku, aku tidak janji ya.

“Bagus lah kalau begitu. Ayah dan Ibu percaya kok pada kalian. Kalian kan anak yang baik.” Kali ini Nyonya Byun lah yang berbicara.

Makan malam dan acara bincang-bincang yang membosankan pun selesai. Aku segera kembali ke kamarku. Namun langkahku terhenti ketika Baekhyun memanggilku.

“Chanyeol-ah.”

Aku berhenti menaiki anak tangga dan berbalik menghadap Baekhyun yang ada dibelakangku.

“Apa?” tanyaku singkat.

Issshhh, ada kepentingan apa sih dia memanggilku? Aku ini capek, dan ingin langsung tidur.

“Hari minggu nanti datang ya, aku tanding basket loh. Melawan Gangnam-gu High School. Ayolah datang, Please!”

Aku berpikir sejenak. Tanding basket ya? Ah. .kedengarannya menarik. Aku punya sedikit ‘rencana bagus’ untuknya.

“Oke. Aku janji, aku pasti datang.” Jawabku sumringah.

Hari Minggu nanti, kau pasti kalah. . .Byun Baekhyun.

–TBC–

10 thoughts on “[FF] Revenge (Part 1 Of 2)

  1. Minnn ???
    ceritanya keyen binggits, sory baru baca #kemane aje sh gw
    #oke,abaikan
    berjuta-juta jempol dah bwt admin, muahch -3-
    smangat min bwt nulis epep yg thriller2 lgi, daahh #lambai2tangan sama chanyeol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s