[FF] Awake

Title :

AWAKE

Main Cast :

Kwon Jiyong (GD)

OC / You

Author :

“D”

Genre :

Romance

Length :

OneShoot

Halohaa. . . . .

Awalnya pengen bikin Drabble, tapi ujung2 nya malah jadi OneShoot T______T

FF ini terinspirasi pas aku lagi baca 1 article. Eh, dalam article itu ada kata ‘awake’ nya. Langsung deh, otakku berkicau (?) pengen bikin FF ini.

FF ini ANEH banget. Aku tahu T__________T

Kamu masih merasakan rasa kantuk yang sangat kental yang membuat matamu terasa berat untuk dibuka. Perlahan kamu mencoba memaksakan membuka matamu. Terasa sangat sulit memang, tapi kamu terus mencobanya. Kamu mengerjapkan matamu beberapa kali. Membiasakan matamu akan sinar matahari yang terlalu menyilaukan. Kamu menggunakan kedua tanganmu untuk menghalau sinar matahari yang menusuk. Kamu bangun dan duduk. Kamu mengedarkan pandanganmu pada sekitar.

Ini dimana? Tanyamu pada dirimu sendiri.

Kamu sedang berada di sebuah padang ilalang yang luas. Sejauh mata memandang, sejauh itu pula terhampar ribuan ilalang yang indah. Angin bertiup sepoi-sepoi. Membuat ilalang itu melambai-lambai menyambut kehadiranmu. Kamu dapat mendengar desiran angin di telingamu, seolah-olah mereka membisikkan sesuatu untukmu. Burung-burung bernyanyi untukmu. Puluhan kupu-kupu menari-nari diatasmu. Kamu menengadahkan kepalamu menatap langit. Sinar matahari tetap menusuk matamu, tapi tidak separah seperti saat pertama kali kamu bangun. Terik matahari yang cerah dan tidak membakar kulitmu. Damai. Kamu tidak tahu dimanakah kamu berada sekarang ini. Tapi yang pasti, kamu sangat suka dengan tempat itu. Membuatmu merasa damai dan tentram.

Kamu baru menyadari kalau kamu hanyalah satu-satunya orang yang berada di tengah-tengah luasnya padang ilalang tersebut. Kamu sendirian. Kamu tidak mendengar adanya suara lain selain desiran angin dan suara lambaian ilalang. Perlahan kamu bangkit dari dudukmu. Matamu ikut berputar seiring dengan putaran tubuhmu, melihat sekelilingmu. Tiba-tiba, kamu dapat melihat adanya seseorang dari kejauhan. Alismu terangkat dan kamu menyipitkan matamu. Semakin jelas. Itu bukan seseorang, tetapi ada empat orang. Satu orang pria dewasa dan tiga orang anak-anak.

Entah mendapat dorongan darimana, kamu memberanikan diri mendekati mereka. Mungkin hatimu yang memaksanya. Kamu ingin tahu tempat apa ini. Mungkin dari mereka, kamu dapat memperoleh sejumlah informasi. Langkahmu semakin dekat. Kamu bisa melihat wajah pria dan anak-anak itu. Kamu tidak tahu siapa anak-anak yang sedang bermain tersebut, tapi pria itu. .wajahnya tidak asing bagimu.

Kamu berdiri disamping pria itu. Tanpa mengeluarkan satu katapun. Dia sibuk memperhatikan ketiga anak-anak yang sedang bermain layangan tersebut. Kamu juga ikut memperhatikan mereka. Sesekali kamu tersenyum melihat tingkah mereka yang polos. Kamu menatap pria itu lagi. Ya, kamu yakin kamu mengenalnya. Hanya saja. . .rupa pria itu agak sedikit berbeda. Pria itu memakai kemeja putih dan jas abu-abu. Sebuah dasi hitam mengikat di kerah bajunya. Dia memakai kacamata berframe kotak. Rambut coklatnya tersisir rapi dan sedikit mengkilat. Kumis tumbuh diantara bibir dan hidungnya. Kamu juga dapat melihat sedikit keriput yang menghiasi wajah tegasnya. Kamu memperkirakan usia pria itu sekitar 35-40 tahun.

“Ini sudah terlalu lama.”

Kamu tersentak. Dia membuyarkan lamunanmu dengan sebuah kalimat yang kamu tidak mengerti. Kamu mengerutkan dahimu dan mengangkat alismu. Dia menoleh kesamping. Menoleh ke kamu. Dia tersenyum padamu. Senyuman yang lembut dan kental akan kerinduan. Membuatmu semakin heran. Dia menggapai tangan kirimu. Menautkan jari-jarinya yang besar diantara jari-jarimu. Hangat. Kamu dapat merasakan kehangatan menjalar di seluruh permukaan tubuhmu. Membuat hatimu tenang. Mengusir rasa gundah yang melandamu. Dia menarikmu berjalan disampingnya. Kamu tidak memberontak.

Ini aneh. Pikirmu.

“Ji. .yong?” kamu menyebutkan namanya dengan ragu.

Dia menoleh “Ya.” Jawabnya singkat seraya tetap melemparkan senyuman. Senyumannya begitu lembut dan hangat, membuatmu nyaman dan tak mampu berkata-kata lebih. Kalian melanjutkan perjalanan kembali. Kamu bingung, sebenarnya Jiyong hendak membawamu kemana. Tapi kamu tidak bertanya ataupun memberontak. Kamu percaya padanya.

Eomma. .” anak itu memelukmu. Anak yang tadi kamu lihat sedang asik bermain layang-layangan bersama kedua temannya yang lain. Kamu heran dan terkejut. Siapa yang dipanggilnya ‘eomma’. Aku? Pasti anak ini salah kira.

“Anak kita.”

Seolah dapat membaca pikiranmu, Jiyong menjawab pertanyaanmu. Membuatmu tersentak kaget dan membulatkan matamu. Jiyong malah terkekeh pelan melihat ekspresimu. Dia tak melanjutkan kalimatnya, malah kembali fokus melihat anak perempuan yang masih memelukmu itu. Bagimu terasa aneh, karna seakan-akan mereka berkomunikasi melalui pikiran. Telepati. Anak perempuan tersebut melepaskan pelukannya pada tubuhmu secara perlahan. Tanpa bicara, dia pergi begitu saja mengejar kedua temannya yang lain yang sudah menjauh.

“Apa maksudmu dengan anak kita?” cukup. Kamu penasaran setengah mati dengan kalimat yang Jiyong ucapkan. Bagaimana mungkin kamu dapat mempunyai anak jika kamu saja merasa tidak pernah mengandung. Jangankan mengandung, kamu bahkan belum menikah.

Jiyong mengusap lembut pipimu dengan sentuhan tangannya. Membuatmu seakan-akan tersengat ribuan watt listrik. Dia tetap tersenyum padamu. Mata teduhnya menatapmu penuh kelembutan. Kamu benar-benar terpesona dengan wujudnya yang sangat menawan.

“Bangunlah. . .! Bukankah kita sudah berjanji akan menikah dan bersama-sama membesarkan anak-anak kita nantinya?”

Apa mak. .mmpphh.” Jiyong mengunci bibirmu dengan bibirnya. Membuat tubuhmu terkena stoke mendadak. Walaupun hanya sekilas, ciumannya terasa lembut dan hangat.

“Bangunlah! Aku menunggumu.”

Kamu masih diam mematung. Kamu mencoba mencerna setiap ucapan Jiyong. Tanpa kamu sadari, Jiyong sudah melangkah pergi meninggalkanmu. Dia melangkah menuju cahaya. Semakin jauh dan kamu hanya bisa menatap punggungnya. Anehnya, kamu tidak mengejarnya. Semakin lama bayangan sosok Jiyong semakin memudar hingga akhirnya menghilang ditelan cahaya. Kamu tersadar.

“Jiyong? JIYONG! JIYONG!” kamu berteriak sekeras-kerasnya memanggil Jiyong. Berharap Jiyong berbalik dan melihatmu. Namun tentu saja hal itu mustahil. Karna Jiyong sudah benar-benar menghilang ditelan cahaya. Nafasmu tercekat dan jantungmu berdegup kencang. Tidak ada lagi perasaan tenang dan damai yang tadi kamu rasakan. Sekarang hatimu berdebar-debar merasakan takut. Tanpa menunggu lama, kamu segera berlari mengejar Jiyong. Menuju cahaya.

Perasaan itu datang lagi. Kamu kembali merasakan rasa kantuk yang amat kental menyerang matamu. Kembali membuatmu sulit untuk membuka matamu. Tubuhmu sadar, bahkan kamu dapat menggerakkan tanganmu dengan perlahan. Hanya matamu saja yang masih berat untuk dibuka.

“Chagi. .chagiya?”

Kamu mendengar seseorang berbicara. Suara berat yang kamu kenal itu memanggilmu. Menggenggam tanganmu, menuntunmu untuk sadar dan membuka matamu. Pelan, kamu memaksakan matamu terbuka. Kembali kamu merasakan silau yang menusuk matamu. Bedanya, kali ini bukan dari sinar matahari. Melainkan sinar lampu yang menerangi ruangan tempat kamu berada.

“Ji. .yong?” kamu menoleh ke samping. Menemukan sosok Jiyong yang melihatmu dengan rasa bahagia. Matanya sembab dan bengkak. Air mata turun membasahi pipinya. Lingkaran hitam di matanya terlihat jelas. Dia terlihat sangat lelah.

“Kau jelek sekali.” Kamu mencoba meledeknya. Alih-alih marah Jiyong malah memeluk tubuhmu. Pelukannya kencang sekali. Seakan-akan tidak akan pernah melepaskanmu. Melampiaskan segala kecemasan dan ketakutan yang pernah ia rasakan. Menyalurkan rasa kerinduan mendalam melalui pelukannya yang kuat.

“Hiks. .kukira aku. .aku. .hiks. .hiks. .akan kehilangan dirimu. Aku takut sekali. Hiks. Syukurlah, kau sudah sadar. Hiks.” Katanya di sela isak tangisnya. Dia menangis di bahumu. Kamu dapat merasakan bahunya ikut bergetar hebat seiring dengan isak tangisnya yang pecah. Kamu balas memeluknya. Menenangkan hatinya, mencoba mengatakan ‘bahwa kamu tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Sekarang kamu ada disini bersamanya’. Jiyong melepaskan pelukannya darimu. Mengusap kasar air mata dengan punggung tangannya.

“Kau sudah koma selama sebulan. Aku sangat khawatir padamu. Aku takut kau meninggalkanku. Aku takut. .sangat takut.” Dia menyecupi punggung tanganmu berkali-kali. Walaupun air matanya tidak sederas tadi, namun isak tangisnya masih dapat kamu dengar.

“Kaulah yang telah membangunkanku dari tidur panjangku yang tak berujung.”

Detik itu juga, suara isakan tangis Jiyong tak terdengar lagi. Dia mematung. Kamu yakin bahkan sekarang ini dia berhenti bernafas mendengar kalimatmu. Kamu tahu Jiyong tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kamu ucapkan. Dia tidak bertanya. Namun kamu sudah dapat membaca seribu pertanyaan yang tergores di wajahnya. Kamu terkekeh pelan melihat ekspresi Jiyong yang menggemaskan. Lalu kamu mendekatkan tubuhmu pada Jiyong. Kamu memeluknya.

Terima kasih sudah membangunkanku, Jiyong-ah. Aku mencintaimu.”

 

♥THE END♥THE END♥THE END♥

3 thoughts on “[FF] Awake

  1. Ya ampun jiyong kamu romantis banget. Jadi maksudnya si bapak jiyong di alam padabg ilalang itu bilang dengan maksud jangan meninggal dulu kitanya. Bangun dan lanjutkan hidup sampai menikah nanti dengan jiyong yang muda. Wah thor aku suka sekali ff ini.. feelnya dapet meskipun ceritanya pendek. Author top banget dah. Maap baru komen soalnya baru nemu di gugel :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s