[FF] Him

Title :

Him

Cast :

OC/You

Length :

Ficklet

Author :

“D”

DON’T BE PLAGIATOR!

Aku membuka mataku lebar-lebar. Tanpa berkedip sedikitpun, berusaha memfokuskan diriku pada sebuah buku tebal yang sebelumnya telah kupinjam. Mencoba fokus membaca kata demi kata yang tertera pada setiap lembar halaman buku itu. Tapi yang ada, aku malah semakin tidak bisa berkonsentrasi. Namja kampungan itu tak henti-hentinya datang mengunjungi pikiranku. Mengendalikan kerja otakku sehingga hanya bertumpu memikirkan dirinya. Sudah seminggu ini, namja itu mengganggu ketenangan hidupku. Di setiap detik, di setiap menit bayangan wajahnya selalu hadir. Membuat segala aktivitas yang kujalani hancur berantakan lantaran dirinya.

“ARGH. .Tidak bisa!! Tidak bisa!! Tidak bisa!!” aku menggelengkan kepalaku kuat. Ini tidak bisa dibiarkan. Kenapa aku selalu memikirkannya? Ah, tidak. Bukan aku yang memikirkannya. Tapi dialah yang dengan seenaknya tanpa permisi, masuk dan memenuhi isi pikiranku. Dialah yang selalu membuat hatiku berdebar kencang hanya dengan mengingat wajahnya. Berdebar kencang? Astaga. .apa mungkin aku jatuh. . . . . . .Ah, TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN! Oh, ayolah. Aku tidak mungkin menyukai namja itu kan? Aku dan dia bagaikan langit dan bumi. Kami sangat jauh berbeda.  Dia benar-benar tak sebanding dengan diriku. Dia tak pantas bersanding denganku. Dia hanyalah namja kampungan dan miskin yang hobby-nya membaca puluhan buku tebal. Dia bukanlah murid yang populer dan dikagumi di sekolah. Meskipun bagiku dia. .err. .tampan, tapi dia bukanlah girls magnet. Meskipun hobby-nya membaca buku, namun dia bukanlah murid yang berprestasi di sekolah. Maksudku, dia tidak bodoh juga. Bisa dibilang, prestasinya sangat standar. Orang tuanya bukanlah seorang milyarder  yang hobby-nya mengembang biakkan uang. Bahkan yang kutahu, kedua orang tuanya yang dulunya bekerja sebagai pedagang itu telah meninggal. Kini dia hidup bersama adik perempuannya. Menafkahi diri mereka dengan pekerjaannya yang bagiku sangat tidak level. Menjadi pengantar koran dan penjaga SPBU. Gosh! Lihatlah, aku tahu banyak informasi tentang dirinya. Benarkah aku tertarik padanya? Sekarang mari kita lihat perbandingannya dengan hidupku! Aku. .seorang ‘Tuan Putri’ yang bergelimang harta. Bagiku, uang bukanlah masalah. Jika aku menginginkan sesuatu, aku pasti mendapatkannya. APAPUN ITU. Hidupku serba mewah dan serba berlebihan. Ayahku kaya, aku tidak perlu lagi bekerja banting tulang hanya sekedar untuk makan. Itu tidak perlu. Bukannya sombong atau terlalu percaya diri, tapi aku tahu aku adalah seorang primadona di sekolah. Aku cantik dan populer. Banyak pria yang mencoba mendekatiku. Banyak pria yang mengagumi dan berebut menarik perhatianku. Kecuali. .namja itu. Dia bahkan tak melirikku saat aku lewat dihadapannya. Dan sialnya, sekarang aku malah tertarik pada dirinya.

Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Oh disana, aku melihatnya. Dia duduk dibangku, dan lagi-lagi ditemani dengan buku tebal kesayangannya. Entahlah, aku tidak tahu dan tidak tertarik dengan judul buku yang sedang ia baca itu. Aku menghela nafas. Kenapa dia sangat mengagumkan?

“Eh? Apa? Argh….tidak..tidak..tidak….” –lagi- aku menggelengkan kepalaku keras. Mengusir setiap pujian untuknya yang terlontar begitu saja dari bibirku. Damn, bagaimana mungkin namja yang biasa-biasa saja seperti dia bisa memporak-porandakan hatiku seperti ini? Otakku menyuruhku untuk melupakannya, tapi hatiku dengan sangat lancangnya malah semakin terpesona akan dirinya. Ini sangat aneh. Ada apa dengan diriku? Apa yang namja itu lakukan padaku? Apa. .dia menggunakan sejenis magic untuk mengikatku?

ARGH, cukup! Aku tidak tahan lagi. Aku harus menemui namja itu dan mengajukan protes dengannya. Bila didiamkan, hidupku akan semakin kacau. Aku harus melepaskan diri darinya. Aku harus melupakannya. Ah tidak. Dialah yang seharusnya menarik dirinya keluar dari pikiranku.

Tanpa berlama-lama lagi, aku segera menutup buku tebal yang kupinjam dari Perpustakaan namun sama sekali tak kubaca dengan serius. Membiarkan buku itu tergeletak begitu saja di atas meja. Uh, untung saja penjaga Perpus tidak melihatnya. Jika ketahuan tidak mengembalikan buku ke tempatnya semula, aku pasti kena marah habis-habisan. Aku berlari tergesa-gesa menuruni anak tangga. Tidak memperhatikan murid-murid lain yang berpapasan denganku. Aku mendengar seseorang meneriaki namaku. Tapi aku tidak menoleh. Maaf ya, aku sedang terburu-buru. Aku harus segera menemui dan menghakimi namja kampungan itu.

Dengan nafas tersengal-sengal aku berdiri di depannya. Dia menghentikan kegiatan membacanya dan melepaskan kacamata yang bergelantung pada matanya. Menatapku heran dengan matanya yang. .err bagaimana aku menjelaskannya ya? Sial, namja ini benar-benar meracuni otakku. Selama ini, aku tidak pernah bertatapan langsung dengan namja ini. Dan sekarang aku tiba-tiba muncul dihadapannya. Berdiri dengan nafas berantakan dan dia malah memberikanku sebuah tatapan yang lebih dari kata mempesona. Hah, hatiku semakin berdebar-debar. Otakku semakin kacau. Aku gugup sekali dan kakiku lemas. Rasanya ingin kabur, tapi aku sudah terlanjur berdiri di depannya. Aish, aku tidak menyangka jika berdiri dihadapannya malah membuat diriku semakin kehilangan keseimbangan.

“YA! KAU KAU!!! AKU MENYUKAIMU. AYO KITA PACARAN!”

Damn! Apa yang barusan aku katakan? Lancang sekali bibirku mengatakan kalimat itu. Keliatan bodoh dan memalukan.

~THE END~

6 thoughts on “[FF] Him

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s