[FF] One Day (The Best Feeling): Harry Styles

Title:

One Day (The Best Feeling) : Harry Styles

Author:

“D”

Cast:

You and Harry

Genre:

Romance

Length:

OneShoot

Hai Hai Hai, setelah sebelumnya One Day (The Best Feeling): Chanyeol. Kali ini giliran Harry ^^. Betewe, pada tahu gak nih Harry itu sapa? Bukan Harry Potter loh ya. Kekekekk. . Harry Styles itu salah satu member nya One Direction.

Numero Inconu (nomor tak dikenal)

Kamu terdiam sebentar menatap layar handphone mu yang menampilkan tulisan numero inconu. Kamu bertanya dalam hatimu siapakah gerangan yang menelponmu. Sebelum handphonemu berhenti berdering, kamu segera menekan tombol hijau.

“Halo. .”sapamu pada orang yang menelponmu. Tapi seperkian detik berlalu tak juga kamu mendengar seseorang menjawab sapaanmu. Tidak ada suara sama sekali. Hening. Kamu menjauhkan ponsel itu dari telingamu lalu kembali menatap layar ponselmu.

“Belum dimatikan kok.” Gumammu saat melihat tanda panggilan masih berlangsung pada ponselmu. Kamu menempelkan kembali ponselmu pada telingamu dan untuk yang kedua kalinya memberi sapaan pada orang yang  menelponmu.

“Halo. .” kali ini nadamu sedikit meninggi dan terdengar  kesal.

Tu Me Manques (aku merindukanmu).” Kamu mengangkat alismu heran saat mendengar suara jauh itu mengatakan kalimat yang tidak kamu mengerti. Kamu tahu arti dari kalimat itu, yang tidak kamu pahami adalah kenapa orang itu tiba-tiba mengucapkannya padamu.

“Maaf, tapi ini siapa?” tanyamu sopan.

Your Destiny.”  Suara serak itu berkata diakhiri dengan tawa ringan. Kamu semakin heran. Namun kamu tidak mau ambil pusing. Kamu yakin itu hanyalah orang  yang salah sambung atau hanya orang iseng yang pada akhirnya akan mengajakmu berkenalan.

“Maaf, tapi anda salah sambung.” Tanpa menunggu balasan dari orang yang menelponmu, kamu dengan cepat memutuskan sambungan secara sepihak.

Kamu melempar ponsel mu ke ranjang king size milikmu. Kamu menghela nafas dan membuka lemari pakaianmu. Memilih, kira-kira baju apa yang pas yang harus kamu kenakan pada hari ini. Tidak memakan waktu lama, dress santai motif bunga langsung mencuri perhatianmu.

******

Kamu berjalan disekitar Eiffel Tower. Memperhatikan orang-orang modis yang berlalu lalang disekitarmu. Sesekali kamu bermain dengan Polaroid-mu. Mengabadikan kemegahan Eiffel dalam sebuah gambar. Kamu menengadahkan kepalamu melihat puncak bangunan dengan serangkain besi itu. Ini pertama kalinya kamu melihat Eiffel Tower dalam jarak dekat. Kamu berdecak kagum akan bangunan yang menjadi icon Negara Perancis sekaligus merupakan salah satu keajaiban di dunia itu.

Tiba-tiba kamu merasakan ujung dress mu di tarik oleh seseorang. Kamu melihat ke bawah dan mendapati seorang anak perempuan yang memegang setangkai bunga lili di tangannya. Kamu sedikit menurunkan badanmu, menyimbangkan tinggi dengan anak perempuan itu.

“Hai. .” sapamu dan tersenyum padanya.”Ada yang bisa kubantu, adik kecil?”

Anak perempuan itu menyerahkan setangkai bunga lili yang tadi ia pegang kepadamu. Kamu menerimanya.

“Untukku?”

Gadis kecil itu mengangguk.

Kamu menghirup aroma harum bunga lili itu. Kemudian mengucapkan rasa terima kasihmu pada gadis kecil itu. ”Terima kasih ya.”

Gadis kecil itu mendekat padamu. Ia membisikkan sesuatu di telingamu.

“Dari seseorang.”

Kamu menatap gadis kecil itu dengan bingung.”Maksudmu bunga ini bukan darimu?”

Gadis kecil itu kembali mengangguk.

“Lalu ini dari siapa?” tanyamu.

Your destiny.” Jawab gadis itu seraya pergi berlari meninggalkanmu.

Kamu menatap punggung gadis kecil itu yang sudah menjauh. Lalu kamu mengalihkan pandanganmu pada setangkai bunga lili yang kamu pegang. Your destiny??? Ucapan gadis kecil itu mengingatkanmu pada seseorang. Ya, seseorang yang menelponmu tadi pagi. Kamu semakin bingung. Apa orang yang memberimu bunga lili ini adalah orang yang sama dengan yang menelponmu tadi pagi? Tapi siapa Mr. Your Destiny  itu? tanyamu pada dirimu sendiri. Apa aku mengenalnya?

******

Kamu sedang menikmati makan siangmu di sebuah restoran. Kamu memesan Croque Monsieur sebagai hidangan pembuka, coq au vin sebagai menu utama dan flan sebagai dessert-nya. Dan tak lupa minuman strawberry mix sebagai pelengkap. Kamu sengaja memilih untuk duduk di meja pojok ajar kamu dapat mengintip keindahan Paris dari balik kaca jendela. Jam tanganmu menunjukkan angka 13.20. Wajar saja jika cacing-cacing didalam perutmu sudah melakukan demo. Saat makanan pesananmu datang, kamu segera melahapnya. Sampai tiba-tiba seorang pelayan datang menghampirimu. Kamu menghentikan makanmu.

“Maaf Nona, seseorang menitipkan ini untukmu.” Pelayan itu menyerahkan secarik kertas padamu.

“Terima kasih.” Ucapmu dan pelayan itu pamit pergi.

Dengan penasaran, kamu membuka kertas yang terlipat itu dan membaca tulisan yang tertera disana.

-Aku tahu kau sangat lapar. Tapi makanlah dengan pelan jika kau tidak ingin tersedak. Dan jangan khawatir, semua makanan itu sudah kubayar. Atau..kau ingin tambah? Silahkan saja. Pesanlah sesuka hatimu. From: Your Destiny-

Matamu melotot keluar saat membaca siapa pengirim pesan misterius itu. Lagi-lagi dari Mr.Your Destiny. Kamu sangat kaget, bagaimana Mr.Your Destiny itu tahu bahwa kamu sedang makan? Kamu mengalihkan pandanganmu ke sekelilingmu. Melihat ke seluruh penjuru restoran siapa tahu ada orang yang kamu kenal. Bulu romamu merinding dan kamu merasa takut, karna kamu merasa Mr.Your Destiny itu membuntutimu. Jelas kamu takut. Kamu tidak mengenal siapa Mr.Your Destiny itu dan kamu juga tidak tahu apa niatannya. Kamu takut jika dia akan melakukan hal buruk padamu. Tanpa menghabiskan makananmu, kamu tergesa-gesa meninggalkan restoran.

******

Kamu sedang menyusuri kawasan elit Champs Élysées. Jalan yang dikenal sebagai jalanan terindah kedua di dunia ini dipenuhi oleh turis-turis local dan mancanegara yang berlalu lalang. Matamu memandang kagum pada toko-toko mewah sepanjang jalan yang berisikan barang serta parfum-parfum ternama. Kamu tentu ingin memiliki salah satu barang mahal tersebut. Namun sayang, harga barang ber-brand tersebut tak sesuai dengan isi dompetmu. Kamu mengambil Polaroid-mu dari dalam tas selempang milikmu. Kembali merekam salah satu daya tarik Paris dalam sebuah foto.

Kami terlalu asyik mengambil gambar sampai tiba-tiba seorang wanita dan seorang pria, yang menurutmu seperti pasangan suami istri datang menghampirimu. Tanpa berkata apapun, wanita itu langsung saja memberikan sebuah kotak kecil padamu. Kamu bingung tapi kamu terima juga kotak pemberian wanita itu. Wanita itu tersenyum dan kemudian pergi meninggalkanmu.

Kamu memasukkan Polaroid-mu ke dalam tas dan membuka kotak pemberian wanita tadi. Alangkah terkejutnya kamu saat melihat isi didalam kotak itu ternyata sebuah cincin. Kamu mengambil cincin tersebut dan memandanginya dengan penuh tanya. Matamu tak sengaja menangkap sebuah kertas kecil yang terselip di dalam kotak. Kamu buru-buru mengambil kertas itu. Menebak apakah didalam kertas itu tertulis clue orang yang sudah mengirimimu cincin tersebut.

I wanna marry you – from: Your Destiny

Jantungmu berhenti berdetak membaca siapa orang dibalik kiriman cincin yang kamu terima. Sepanjang hari ini Mr.Your Destiny itu benar-benar mengganggumu. Kamu memutuskan menyudahi kunjungan wisatamu dan bermaksud kembali ke flat mu.

******

Saat kamu ingin menyebrang pulang ke flat, kamu melihat seorang pria berdiri bersandar pada gerbang flat mu. Matamu melotot lebar saat tahu siapa yang kamu lihat itu. Kamu yakin kamu tidak salah lihat. Tapi kamu juga tidak percaya jika ini adalah sebuah kenyataan. Dengan terburu-buru, kamu menyebrang jalan.

Kamu berjalan amat lambat dengan mata yang masih setia menatap sosok pria yang berdiri di depan flat mu. Sekali lagi, jantungmu seakan berhenti berdetak. Pria itu menyadari kedatanganmu. Dia tersenyum manis padamu. Kamu menutup mulutmu saking senangnya dengan apa yang kamu lihat. Bahkan matamu sudah berkaca-kaca. Kamu segera berlari mendekati pria itu dan langsung memeluknya.

“Harry. .benarkah ini kau?” tanyamu dalam pelukan pria itu.

Pria bernama Harry itu terkekeh pelan.”Kau pikir hantu?”

Kamu melepaskan pelukanmu dan menatap Harry. Kamu mencubit kedua pipi Harry.

“Aww. .lepaskan. Sakit.”

Sekarang kamu benar-benar yakin ini bukanlah sebuah mimpi.

“Bagaimana kau ada disini?” tanyamu.

“Karna aku merindukanmu. Makanya aku datang.”

Kamu tersenyum bahagia mendengar jawabannya. Harry merindukanmu, begitu pun dirimu. Kamu sangat merindukan Harry. Kamu dan Harry sudah lama sekali tak bertemu. Sekitar dua tahun. Harry mengambil scholarship di negeri kincir angin, Belanda. Sedangkan dirimu di Perancis. Kamu dan Harry selama ini terlalu disibukkan dengan sekolah kalian. Sehingga selama dua tahun ini kalian tidak pernah bertemu sama sekali, meski komunikasi lewat telepon dan email tetap terjaga. Dan sekarang Harry berdiri di hadapanmu.

Harry mendekatkan tubuhnya padamu dan berbisik.”Kau terdengar sangat galak di telepon.”

Kamu tidak mengerti dengan apa yang Harry katakan. Otakmu mencoba mencerna perkataan Harry. Seingatmu tiga hari belakangan ini Harry tidak pernah menelponmu, kalian hanya saling berkomunikasi lewat email. Dan kamu tidak pernah mengangkat telepon dengan nada galak, kecuali tadi pagi. Oh, God! Seperti mendapat benang merah, kamu teringat telepon yang kamu terima tadi pagi dari Mr. Your Destiny. Apa jangan-jangan. . .

Mr.Your Destiny?” tanyamu dengan tampang bingung sekaligus tak percaya.

Harry tersenyum jahil.”Hei, bagaimana bisa kau tidak mengenali suara pacarmu sendiri?”

“Astaga Harry, jadi itu kau?” kamu memukul Harry sekuat tenagamu. Kamu benar-benar kesal. Bisa-bisanya Harry menjahilimu hingga sampai seperti ini. Dirimu sudah ketakutan setengah mati akan kehadiran Mr.Your Destiny. Tapi ternyata itu adalah Harry, kekasihmu. Kamu kesal, tapi lega. Setidaknya kamu sudah tahu siapa Mr.Your Destiny itu dan kamu tahu dia bukan seorang penjahat seperti yang kamu bayangkan.

Harry tertawa terbahak-bahak menyadari kenyataan kamu yang sudah berhasil ia kerjai. Kamu mengerucutkan bibirmu kesal.

“Kau tahu aku hampir mati? Kupikir Mr.Your Destiny itu orang asing yang ingin menculikku.”

Harry merangkulmu.”Maaf. .maaf. .aku hanya bercanda kok. Sudah ya, jangan marah lagi.”

Ternyata bujuk rayu Harry tak mempan terhadap dirimu. Kamu masih merasa kesal dengan ulah Harry yang menurutmu sudah kelewatan batas.

Harry kembali mencoba membujukmu.”Hei, jangan marah lagi. Wajahmu semakin kucel dan jelek jika kau marah. Baiklah, sebagai permintaan maafku, sepanjang hari ini aku akan menemanimu jalan-jalan. Kemana saja yang kau suka. Bagaimana?”

Perlahan dinding pertahananmu runtuh juga. Kamu tertarik dan senang dengan tawaran Harry.

“Benarkah?” kamu menatap Harry dengan wajah ceriamu. Harry mengangguk.

“Kalau begitu sebagai tujuan pertama, ayo kita ke Notre Dame. Aku ingin berfoto disana.”

“Ayoo. . .”

Harry menggenggam tanganmu dan kalian berdua berjalan bersama. Tapi, tiba-tiba Harry berhenti melangkah membuatmu juga ikut berhenti.

“Ada apa?” tanyamu bingung.

“Aku melupakan sesuatu.” Jawab Harry dengan wajah paniknya yang dibuat-buat.

“Apa?”

“Lamaranku. Kau belum memberikan jawaban atas lamaranku.”

Kamu menatap Harry dengan semakin bingung. Karna jujur kamu memang tidak mengerti sama sekali dengan maksud Harry.

“Cincin. Cincinnya tidak kau buang kan?”

Kamu teringat cincin yang kamu terima dari seorang wanita yang berpapasan denganmu dijalan tadi. Kamu merogoh isi tasmu dan mengeluarkan kotak kecil yang berisi cincin.

Kamu menunjukkan kotak itu pada Harry.”Maksudmu ini?”

“Tentu saja itu. Kenapa loading otakmu lama sekali sih? Cincin itu kan juga dari Mr. Your Destiny. Jadi bagaimana, kau menerima lamaranku? Kau mau tidak menikah denganku?” tanya Harry to-the-point.

“Aku mau. Tapi setelah kita lulus kuliah ya.” jawabmu.

Harry terlihat tidak senang mendengar jawabanmu dan ia mengajukan protes.”Setelah lulus? Aku tidak mau. Itukan masih lama. Ayo kita menikah sekarang.”

Harry menarik tanganmu agar kau mengikuti langkahnya.

“Harry kita mau kemana?” tanyamu setengah berteriak pada Harry.

“Kita harus menikah detik ini juga.” Balas Harry santai.

Kamu menatap sebal pada Harry. Laki-laki ini benar-benar sudah gila, pikirmu. Kamu melepaskan genggaman tangan Harry.

“Dasar gila! Tidak jadi, aku tidak mau menikah denganmu.” Ucapmu pura-pura marah. Kamu membalikkan badanmu dan berjalan bermaksud kembali ke flat­-mu. Harry buru-buru mengerjarmu.

“Haish. .ya jangan begitu. Baiklah, aku minta maaf. Maaf ya. Kita tidak usah menikah hari ini. Nanti saja kalau sudah lulus.”

Kamu tidak mau mendengar permintaan maaf Harry. Kamu tetap melipat kedua tanganmu di dada dan diam tak menggubris perkataan Harry. Kamu ingin membalas apa yang sudah Harry lakukan padamu. Sedikit mengerjai Harry sepertinya akan menyenangkan.

-THE END-

(Haha, ceritanya aneh banget ya? )

2 thoughts on “[FF] One Day (The Best Feeling): Harry Styles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s