[FF] Him (Sequel)

Title:

Him (Sequel)

Author:

“D”

Cast:

Yoon Jenna

Park Chanyeol

Length:

Oneshoot

Genre:

Fluff

[pic] him sequel

“YA! KAU KAU!!! AKU MENYUKAIMU. AYO KITA PACARAN!”

Damn! Apa yang barusan aku katakan? Lancang sekali bibirku mengatakan kalimat itu. Keliatan bodoh dan memalukan.Oh, siapa saja tolonglah aku. Tolong hentikan waktu detik ini juga. Aku benar-benar ingin kabur dari hadapannya. Dia memandangiku dengan ekspresi datarnya. Tidak terkejut sama sekali dengan kalimat yang baru saja aku ucapkan. Hei Tuan Kampungan, apa kau tidak tahu? Aku ini sedang menyatakan perasaanku. Apa kau tidak bisa memberikan respon yang sedikit normal?

“Apa?” tanyanya polos yang makin membuatku terlihat sangat bodoh dan salah tingkah. Aku celingak-celinguk dan menggaruk kepalaku. Memutar otak, mencari alasan.

“A. .an. .aniya. Aku. .aku sedang latihan acting. Dan aku menjadikan dirimu sebagai objek latihanku. Kau itu seharusnya bangga, karna aku, Yoon Jenna, yeoja paling populer di sekolahan ini menjadikanmu sebagai lawan dalam latihan actingku.”

Apa alasanku masuk akal ya?

“Ohh. .” balasnya singkat lalu kemudian melanjutkan berkutat pada buku tebalnya. Mwo? Hanya itu? Masa jawabannya hanya sesingkat itu sih? Dasar pelit kata! Aku ini kan mengharapkan respon yang lebih. Dia ini bodoh atau apa sih. Apa dia belum sadar juga? Apa aku harus mengambil toa lalu berteriak sekencang-kencangnya di telinganya bahwa ‘Seorang Yoon Jenna, yeoja paling populer dan paling dikagumi sedang berdiri dihadapannya’? Apa. . dia tidak tertarik pada diriku sedikitpun? Menyebalkan.

“Kalau begitu aku pergi dulu.”

Dia hanya melirikku sekilas dari balik kacamata tebalnya. Rasanya aneh sekali. Beberapa saat yang lalu, aku begitu ingin kabur dari hadapannya. Tapi sekarang, saat waktunya untuk pergi, kenapa kakiku berat sekali untuk digerakkan? Seolah-olah aku tak ingin meninggalkannnya.

Hei Tuan Pelit Ekspresi, apa kau tidak berniat mengejarku? Aku sudah berjalan selambat mungkin loh. Oh, ayolah. Aku ini kan lebih penting ketimbang buku tebalmu itu. Bangkitlah dari tempat dudukmu dan kejar aku. Aku semakin jauh dari tempatnya berada. Tak kulihat tanda-tanda dia akan menghampiriku. Kenapa aku merasa sangat kecewa?

 

♥_♥­_♥_♥_♥_♥_♥_♥

 

“Hai cantik.”

Issssshhhh, makhluk ini datang lagi. Apa ada yang bisa membantuku? Aku akan membayar kalian $10.000.000 jika kalian bisa melenyapkan makhluk menyebalkan ini dari muka bumi.

“Kau sedang makan ya?”

Dasar bodoh. Sudah tahu masih pura-pura tanya.

“Ehm, makan yang banyak ya. Biar aku yang bayar.”

“Byun Baekhyun, aku ini lebih kaya darimu. Jadi kau tidak perlu sok-sok an ingin membayar makananku.” Jawabku ketus. Aku benar-benar muak. Selalu saja alien bermata sipit ini datang menggangguku.

“Wow, kalau sedang marah, kau jadi semakin manis.”

Uwwweeekkk. Simpan saja gombalanmu untuk gadis lain. Gombalan kuno mu itu tidak akan mempan untukku. Aku ingin sekali menyiram kepala alien bermata sipit ini dengan jus jerukku. Tapi tidak kulakukan mengingat itu akan menghancurkan imageku sebagai gadis berkelas dan populer. Tak sengaja mataku melirik ke arah pintu masuk kantin. Aku melihatnya. Ya, namja kampungan itu. Dan. .dia tidak sendiri? Dia bersama Hyun Mi, gadis culun dan kutu buku yang tidak menarik sama sekali. Mereka mengambil tempat duduk di depan. Aku semakin leluasa mengamati mereka berdua. Aku mencoba bersikap sewajar mungkin. Tapi. . melihat keakraban mereka berdua, semuanya menjadi tidak baik-baik saja. Tidak pernah terpikirkan rasanya akan sesakit ini. Apa ini yang disebut cemburu?

“Ya Yoon Jenna! Apa yang kau lakukan?”

Aku tersentak. Mengalihkan pandanganku dan kini menatap sedikit heran pada Baekhyun. Baekhyun memberi isyarat dengan tangannya, menunjuk ke arah piringku. OH GOD! Apa yang aku lakukan? Apa aku yang melakukan semua ini? Makananku berantakan, nasi dalam piring berceceran ke meja. Letak garpu dan sendok pun sudah tak beraturan lagi. Keliatan sangat jorok dan ceroboh.

“Kenapa aku melakukan ini?” tanyaku pada Baekhyun. Baekhyun malah balas menatapku dengan mimik bingungnya.

“Kenapa kau bertanya padaku? Kau mengaduk-ngaduk makananmu dengan kuat. Kenapa? Kau sedang kesal, eoh?”

Aku kembali memandang pada namja kampungan itu dan Hyun Mi. Hei namja kampungan, lihatlah apa yang sudah kau lakukan padaku! Kau benar-benar membuatku kesal dan marah. Jadi sebaiknya kau menjauhlah dari Hyun Mi. Aku tidak suka melihat kalian berdua. Harus kah ku pertegas? AKU TIDAK SUKA. AKU CEMBURU.

“ARRRGGGHHH.” Teriakku kesal dan bangkit berdiri dari tempat dudukku. Semua mata kini tertuju padaku. Mereka memandangiku heran. Mungkin namja kampungan dan gadis culun itu juga tengah melihatku kini. Dengan cuek aku berjalan keluar dari kantin. Aku tidak peduli lagi dengan image ku. Hatiku benar-benar sakit saat ini.

 

♥_♥­_♥_♥_♥_♥_♥_♥

 

Ini adalah hal paling bodoh dan paling memalukan yang pernah aku lakukan. Aku memata-matai namja kampungan itu. Huh, seperti tidak ada kerjaan saja. God! Aku harap tidak ada orang yang memergokiku. Aku bisa malu setengah mati, jika ada orang yang menemukanku, Yoon Jenna, yeoja kaya dan paling populer di sekolah sedang mengintai namja kampungan yang biasa-biasa saja.

Jam tanganku sudah menunjukkan angka 14.30. Sekolah sudah bubar sejak setengah jam yang lalu dan seharusnya sekarang ini aku sedang mengikuti les balet. Tapi aku rela membolos demi mengikuti namja kampungan itu. Aku berjalan sedikit jauh dibelakang namja itu. Mengendap-ngendap agar tidak ketahuan. Dia mau kemana sih? Dia berbelok ke arah SPBU. Oh, tentu saja dia mau bekerja. Aku bingung, tidak mungkin aku mengamati namja itu dari balik pohon. Setelah berpikir, kuputuskan untuk duduk di kedai yang bersebrangan dengan SPBU tempat namja kampungan itu bekerja. Aku memesan minuman seraya tetap mengintai kegiatan yang namja itu lakukan. Dia sudah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian kerja dan bersiap-siap melayani orang yang ingin mengisi bahan bakar. Dia. .terlihat sangat tampan. Aku yang awalnya merendahkan jenis pekerjaan yang dia lakukan, kini justru sebaliknya. Aku mengaguminya, dia namja mandiri dan bertanggung jawab. Bekerja banting tulang disela jadwal sekolah demi memenuhi kebutuhan hidup bersama adiknya. Sosok yang sangat dewasa. Aku benci mengatakan hal ini. Tapi memang harus aku akui. Aku. .jatuh cinta padanya.

Aku merasa sangat bosan. Ini sudah hampir jam 8 malam dan namja itu belum juga selesai dengan pekerjaannya. Memangnya dia mau pulang jam berapa? Apa dia tidak capek? Aku memainkan ponselku. Membuka satu persatu pesan yang masuk. Sejak tadi, aku memang mengabaikan semua pesan maupun telpon masuk ke ponselku lantaran aku tidak ingin melepaskan sedetik pun pandanganku dari namja itu. Aku menghela nafas bosan. Ternyata semuanya berisi pesan yang tidak penting sama sekali. Hanya dari beberapa namja yang mengajakku untuk pergi nonton, makan dan sebagainya. Huh, mereka memang tidak pernah menyerah. Apa lagi yang harus kukatakan untuk menolak mereka semua?

Astaga, namja kampungan itu sudah mau pulang. Untung saja aku segera melihatnya. Jika tidak, aku pasti akan kehilangan jejaknya. Aku bangkit dan keluar dari kedai. Kembali berjalan mengikuti namja itu. Apa dia ini terlalu miskin? Sedari tadi, dia hanya berjalan kaki. Apa dia tidak punya cukup uang untuk naik bis?

Dia memasuki sebuah gang kecil. Aku juga mengikutinya. Ini pertama kalinya aku datang ke daerah pemukiman seperti ini. Sedikit kumuh dengan rumah-rumah yang berdempetan. Jalannya yang menanjak membuatku semakin letih. Apa rumahnya masih jauh? Aku harap aku tidak pingsan di tengah jalan.

“Sebenarnya apa tujuanmu?”

Aku terkejut. Namja itu menghentikan langkahnya. Astaga! Apa aku ketahuan? Aku memandang sekelilingku, mencari tempat sembunyi. Dan sialnya tak kutemukan. Mati aku! Namja itu membalikkan badannya. Mengintimidasiku dengan sorot matanya yang tajam. Aku terdiam mematung. Antara terpesona dengan tatapannya dan takut. Dia berjalan mendekatiku. Kakiku bergetar hebat dan nafasku tak teratur. Aku gugup sekali.

“Kau. .berbicara denganku?”

Bodoh, bodoh, bodoh. Aku merutuki diriku. Kenapa aku selalu menunjukkan sikap bodoh jika berhadapan dengannya? Jelas-jelas sudah tertangkap basah, kenapa aku masih saja mengajukan pertanyaan bodoh itu?

“Memangnya dengan siapa lagi?” Balasnya. Tersirat rasa kesal dalam nada bicaranya. Aku tersenyum bodoh dan kaku.

“Aku tahu kau mengikutiku sejak kita pulang sekolah tadi.”

Skakmat!

“Aku juga tahu kau duduk di kedai depan SPBU hanya untuk mengamatiku bekerja.”

Oh Tuhan, ambillah nyawaku sekarang. Aku tidak bisa lagi menahan rasa malu ini.

“Kau. .sadar?” aku kembali mengajukan pertanyaan basa basi.

Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya.” Apa tujuanmu mengikutiku, eoh?”

Berpikir. Berpikir. Berpikir. Ayo Yoon Jenna, berikanlah alasan yang logis. Tapi, kalau sudah ketahuan begini, mau bilang apa?

“Kau tertarik padaku?”

DEG! Tiga rangkaian kata yang langsung membuatku mendapatkan serangan jantung. Oh, kumohon! Jangan membuatku bertambah malu.

“Ann. . .an. .annniiiiiyyyyaaa. A. .ku. .aku. . .”

Tiikkk tiiikkk tiikkk. . .

Aku tak bisa melanjutkan ucapanku karna hujan perlahan turun. Sontak aku menutupi kepalaku yang tentu saja tetap membuatku basah. Kurasakan seseorang menarik tanganku. Aku mendongak. Namja itu. Dia. .memegang tanganku.

“Ayo kita ke rumahku.” tanpa mendengar persetujuanku, dia segera menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Hangat. Tangannya sangat hangat. Bahkan di tengah derasnya hujanpun, aku tetap bisa merasakan kehangatan tangannya. Membuatku merasa nyaman dan gugup disaat yang bersamaan.

Kami duduk di teras rumahnya yang terbuat dari kayu. Aku mengusap seragam sekolahku yang basah. Merapikan rambutku kemudian menggesekkan tangan kanan dan kiri untuk mengurangi rasa menggigil.

“Ayo masuk.” ajak namja itu. Aku menatapnya ragu.

“Ayo cepat masuk. Kau ingin mati kedinginan disini?”

Aku pun masuk kedalam rumah mengikutinya. Aku melihat sekeliling. Mengamati seberapa besar rumah ini dan memperhatikan perabotan-perabotan apa saja yang tersusun di dalamnya. Rumahnya sangat kecil dan lumayan berantakan. Jika dibandingkan, rumahku seratus kali lipat lebih besar. Lantai rumahnya terbuat dari kayu. Tidak ada TV, AC, bahkan sofa duduk pun tak ada. Hanya terdapat dua ruangan. Ruangan pertama adalah kamar tidur. Aku bisa tahu karna pintu ruangan itu terbuka dan tampaklah sebuah kasur di dalamnya. Sedangkan ruangan kedua, kuyakin itu kamar mandi. Gosh! Bagaimana dia bisa hidup dengan keadaan seperti ini?

“Hem, keringkan rambutmu dan ganti pakaianmu.” Dia menyodorkan sebuah handuk dan sepasang pakaian padaku.

“Itu baju adikku. Seperti nya muat dengan ukuran badanmu. Gantilah bajumu di kamar. Aku mau memasak dulu.” Dia membalikkan badannya dengan cepat. Namun aku memanggil namanya yang membuat dia kembali menoleh.

“Cha. .Chanyeol.”

Heh, rasanya aku ingin tertawa. Ini pertama kalinya aku memanggil dia dengan nama asli tanpa embel-embel ‘namja kampungan’. Dia memandangiku dengan ekspresi datarnya.

“Go. .gomawo.” ucapku kemudian. Dia hanya mengangguk dan berlalu pergi. Aku segera bangkit berdiri, berjalan menuju kamarnya. Masuk dan tak lupa mengunci pintu. Aku duduk di pinggir kasur dan mengamati setiap sudut kamar ini.  Bahkan ukuran kamar mandiku lebih besar ketimbang kamarnya. Kamar ini hanya berisikan sebuah kasur kecil, lemari pakaian yang sudah lapuk dan sebuah meja belajar. Mataku menangkap deretan figura yang tersusun rapi di atas meja. Aku tertarik untuk melihat lebih dekat. Ada foto Chanyeol bersama orang tua beserta adiknya, foto adiknya sendiri dan foto dia bersama adiknya. Aku tersenyum sendiri mengamati foto-foto itu. Ternyata tuan tanpa ekspresi itu juga bisa tersenyum didalam foto. Sebelum Chanyeol semakin curiga, aku buru-buru mengganti bajuku.

♥_♥­_♥_♥_♥_♥_♥_♥

Saat aku keluar, ternyata Chanyeol sudah selesai memasak. Wow, cepat sekali. Dia duduk lesehan dengan beberapa mangkok di atas meja kecil. Chanyeol juga sudah mengganti pakaiannya. Rambut basahnya sedikit berantakan dan ia melepaskan kacamatanya. Dia terlihat seribu kali lipat lebih tampan dari biasanya. Kurasakan hatiku kembali berdebar. Aku duduk di hadapan Chanyeol. Sibuk memperhatikan dirinya yang tengah menuang mie instan ke dalam mangkok. Rasanya canggung sekali hanya berduaan dengan dirinya.

“Kau lapar tidak? Aku sudah memasakkan mie instan.” Dia mulai berbicara. Memecahkan keheningan dan situasi canggung di antara kami. Lalu dia menyodorkan semangkuk mie instan padaku.

“Kau. .memasak mie instan?” kulihat Chanyeol memasang mimik tidak suka dengan pertanyaanku. Apa yang salah?

”Kenapa? Apa orang kaya sepertimu tidak pernah makan mie instan murahan? Kau tidak suka? Ya sudah tidak usah makan.” Dengan kesal dia menarik kembali mie instan yang tadi sudah ia sodorkan padaku.

“Anniya. .” Aku merampas kembali mie instanku dari tangannya. Dia ini sensitive sekali sih. Aku kan hanya sedikit berbasa-basi.

“Aku. .aku kan hanya bertanya.” Jawabku sedikit cemberut. Jujur, aku memang jarang sekali makan mie instan. Bisa dibilang hampir tidak pernah. Orang tuaku bilang mie instan tidak baik untuk kesehatan. Maka karna itu, para koki di rumahku tidak pernah memasukkan mie instan dalam sajian masakannya. Tapi, aku sangat menghargai Chanyeol yang sudah membuatkanku mie instan ini. Dengan semangat, aku mulai memakan mie instanku. Rasanya tidak terlalu buruk. Apa ini juga karna perutku yang lapar?

Aku menghentikan kegiatan makanku.”Adikmu mana?”

“Kau. .tahu aku punya adik?”

Chanyeol menatapku dengan ekspresi tak percaya. God! Aku lupa, kenapa dengan santainya aku mengajukan pertanyaan bodoh itu? Kau memang bodoh Yoon Jenna.

“Itu. .itu. .ehm. .”

“Jadi kau memang tertarik padaku? Sejak kapan kau mulai mengumpulkan informasi tentang diriku?” tembaknya langsung. Aku menunduk tidak berani menatap matanya. Wajahku sekarang ini pasti sudah sangat memerah karna malu.

“Huahahahahahahahahahaha.” Dia tertawa terbahak-bahak. Sontak aku mendongakkan kepalaku menatapnya. Memangnya apa yang lucu?

“Kenapa kau malah tertawa?” tanyaku polos. Aku memang tidak mengerti alasan apa yang membuatnya tertawa.

“Habisnya kau ini lucu sekali Jenna-ssi.” Dia mengacak-ngacak rambutku gemas. KYYYAAAA. . .jantungku benar-benar mau copot. Aku merapikan kembali rambutku yang tadi diacaknya.

“Cha! Habiskan makananmu. Kalau hujannya sudah reda, aku akan mengantarmu pulang.” Dia tersenyum lembut padaku.

“Ah, tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.” Tolakku. Aku tidak mau merepotkannya. Menerimaku di rumahnya saja sudah merepotkan. Jika harus mengantarku pulang pula, itu pasti jauh lebih merepotkan.

“Tapi ini sudah malam. Akan sangat bahaya jika kau pulang sendirian. Jangan menolak! Aku tetap akan mengantarmu pulang.” Ia bersikukuh tetap ingin mengantarku pulang. Wah, apa ini? Apa sekarang dia merasa khawatir padaku?  

“Arasso. . .” jawabku dengan nada terpaksa. Padahal dalam hati aku senangnya bukan main. Kalau tidak ada Chanyeol dihadapanku, aku pasti sudah melompat kegirangan sekarang.

“Karna mengikutiku, kau pasti membolos pada les baletmu kan? Apa tidak apa-apa? Apa kau tidak akan kena marah?”

“Nyam. .nyam. .jangan khawatir. Tidak apa-apa kok.” Balasku spontan seraya tetap mengunyah mie instanku. Namun, sedetik kemudian aku mulai sadar.

“Kau tahu bahwa aku mengikuti les balet?” tanyaku. Sekarang giliranku yang menatapnya dengan tampang tak percaya.

“See? Sepertinya bukan kau saja yang tahu banyak hal tentang aku.” jawabnya sambil menunjukkan senyum misterius. Aku tidak salah dengar kan? Dia. .Park Chanyeol? Namja cuek yang keliatannya tidak tertarik dengan diriku itu, ternyata diam-diam dia juga mencari banyak informasi tentang aku? Membuat jantungku berdebar lebih kencang dari tadi.

“Aku rasa, mulai detik ini kita bisa menjadi teman. Bagaimana?” aku tertegun menatapnya. Bolehkah aku meminta sesuatu yang lebih? Tapi. . jika menjadi teman adalah awal yang baik, kenapa tidak?

Aku mengangguk semangat menyetujui perkataannya. Dan kami pun tertawa bersama mewakili hati yang bersorak gembira.

END OR TBC (galau) 

16 thoughts on “[FF] Him (Sequel)

  1. TBC dong eon.
    Oh ya, disini chanyeol sekolah? Udah masih sekolah, bekerja pula. Pasti dia gembel *dibakar pyromaniac.
    Seru eon, lanjut ya

  2. knpa Yoon Jenna gk blg klo tdi chanchan ngsih tau dia pnya adik… kan pas ngsih bju, chanchan blg itu bju adiknya hehe

    cieee kya’nya chanchan trtarik jga sma Yoon Jenna 😄
    lanjut y🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s